Selasa, 09 Mei 2017

Day 27 of 30 DWC

Aku, Rasa dan Tulisan

Rasanya tak sanggup menguasai diri, kemarahan tengah menguasai, hanya ingin meledak dan menunjukkan amarahku. Hasil pekerjaanku selama lima bulan terakhir menghilang dengan sekejap dikarenakan ulah manusia egois yang satu itu. Namun yang terjadi kemudian hanyalah air mata yang turun membasahi pipi, si introvert belum mampu mengekspresikan perasaannya, mengalah dan terdiam hanya itu yang bisa kulakukan.
“Kenapa Beb?” Shinta, sahabat sekaligus rekan kerja mempertanyakan air mata yang menggenang di pipi.
“Aku lagi badmood. Dataku hancur Shint.” Kataku dengan dada sesak mencoba meredam emosi yang tengah menguasai, “aku sedang mencut data dari leppy ketika Fitra mengambilnya dan terpaksa harus di cancel di tengah proses. Baru 32% ketika dia harus membawa leppynya ke ruangan bawah.”
“Kenapa gak sekalian dibawa aja sama hard disknya? Kan bisa?” Shinta menimpali.
“Mereka mana mau repot begitu. Bawa hard disk kemana-mana. Pasrah aku.” Kataku dengan mata yang masih berkaca-kaca, “ mudah-mudahan masih ada yang bisa diselamatkan.”
“Kenapa nggak nunggu aja? Kan Cuma sebentar.”
“Biasa Ibu Ratu sudah menitahkan.” Kataku kesel.
Aku menyebutnya Ibu Ratu dikarenakan sikapnya yang terlalu dominan dan cenderung menguasai. Tipikal pembully paling kencang di kantor dan seperti biasa aku akan menjadi korban dari mulut yang tak dijaga itu. Kadang sakit terasa dihati namun masih harus menyunggingkan senyum dan pada akhirnya ketika tak mampu menahan maka akan menangis ketika telah di kamar tidur.
Yang aku takutkan ketika semua rasa sakit itu terus menumpuk dan akhirnya butuh pelampiasan. Mulut akan menjadi sulit untuk di kontrol dan akan mengeluarkan kata yang tak kalah busuknya. Salah satu pelampiasan yang bisa dilakukan adalah dengan menulis, mengekspresikan perasaan lewat bahasa tulisan, meski rasanya seperti sedang menulis naskah gossip dikarenakan membicarakan kekurangan orang lain.
Well, mulut adalah bagian paling krusial, pembunuh yang tak terlihat. Karena itulah kenapa Diam itu adalah emas, karena begitu sulit untuk mengendalikannya. Semoga saja kita termasuk golongan orang tak suka menyakiti orang lain.


Senin, 08 Mei 2017

Day 29 of 30 DWC

Chika Part Two

“Aku benci laki-laki Nin!” kata Chika sembari menghapus air matanya.
Aku memeluk dan mencoba  untuk menenangkan.
“Lelaki pertama dalam hidupku adalah orang brengsek, dia sibuk memukuli ibu dan aku setiap hari, tak bertanggung jawab, penjudi kelas kakap dan pemain perempuan. Ia lari bersama perempuan yang tak kalah bejatnya. Entah apa maksud Tuhan menciptakanku dari sperma lelaki bangsat itu. Dan kemudian ketika aku SMA aku kenalan dengan seorang pria yang kupuja sebagai malaikat pelindung dan ternyata ia pencabut nyawa. Lelaki brengsek yang memperlakukanku dengan baik di awal dan meninggalkanku dengan luka yang dalam.” Matanya mengkilap dan memerah. Aku bisa melihat amarah dan sakit yang dirasakannya.
“Dan lihatlah para lelaki di kampus ini, tatapan mata mereka seolah menelanjangiku. Aku layaknya boneka lemah yang bisa perlakukan seenaknya. Mereka hanya tertarik dengan wajahku dan ketika aku sudah takluk maka mereka memulai memperlihatkan taringnya, siap menerkam dan menguliti.” Chika berang.
“Dan ketika aku terjatuh, mereka pergi dan tak pernah kembali. Bahkan berpura tak mengenaliku lagi. Dan yang ada untukku selama ini hanyalah mama. Memeluk dan menenangkan, memotivasi untuk terus bangkit dan lebih tegar untuk memulai hidup baru. Kelembutan darinya merasuk ke hati. Jadi salahkah jika aku lebih memilih wanita untuk berbagi?”
Aku terdiam, sorot matanya sudah mulai terlihat berbeda. Kemarahannya hilang dan ia memegang tanganku.
“Sosok sepertimu yang begitu pengertian Nin, aku menyukainya. Kamu ada dan tak meninggalkan aku.” Chika tersenyum
Tuhan, apa yang harus kulakukan, keringat mulai mengucur. Sontak aku pamit ke toilet dan tak kembali lagi. Aku menggigil ketakutan dan disisi lain aku ikut bersimpati atas apa yang dialaminya. Namun juga tak bisa membiarkan diriku terlibat lebih jauh. aku hanya ingin berteman dengannya dan menjadi sahabat untuknya akan tetapi tatapan matanya padaku berubah menjadi liar. Aku harus menjaga jarak dengannya.
 “Nina, aku menyukaimu, sudah kukatakan padamu kan? Namun kenapa kamu malah menghindar?”
Aku hanya bisa menangis tak bisa melakukan apa-apa.
“Lihatlah! Karena ulahmu itu aku harus melakukan ini. Kamu tak boleh pergi dariku, harus tetap di sini bersamaku. Aku akan menjaga dan memperlakukanmu dengan baik.”
Dan disinilah aku sekarang terbaring lemah dan tak berdaya. Kaki dan tangan di belenggu serta mulut dibekap. Aku tak seharusnya menerima ajakan Chika untuk bertemu, namun ketika dia memohon aku tak sanggup untuk menolak. Aku menunggu di sebuah taman dan terbangun di ruangan putih nan sempit. Rupanya ia telah memasukkan obat ke dalam minumanku. Aku kini terjebak dan tak bisa kemana-mana, setiap hari dicekoki dengan obat dan membuat ototku melemah. Kini dia yang berkuasa dan aku yang menjadi bonekanya.

Day 28 of 30 DWC

Chika Part One

Aku menganggap Chika hanya sebagai teman perempuan biasa. Bertemu dan saling menyapa menanyakan kabar masing-masing, mungkin sesekali kami janjian untuk makan siang dan berbagi cerita seperti biasanya. Namun selentingan yang kudengar semakin tak biasa, aku bingung ketika mereka mulai menebarkan berita yang kurang mengenakkan.
“Ada hubungan apa kamu sama Chika?”  Jay teman kuliah menyelidik.
“Hanya teman biasa.” Aku menjawab datar “kamu nakir yah sama dia?” aku menggoda sembari mengedipkan mata “kasih tahu saja nanti kusampaikan salammu ke dia.”
“Ngaco aja kamu Nin, dia memang cantik dan bisa dibilang banyak yang suka sama dia tapi sayang dia kurang waras.” Kata jay.
“Gak waras gimana maksud lo?” dahiku mengernyit, aku tidak mengerti.
“Ya iyalah gak waras, perempuan kok suka sama perempuan.” Kata jay, sontak aku kaget.
“Jangan ngaco dan sok tahu berlebihan.” aku menimpali.
“Aku serius Nin!” Jay meyakinkan.
“Dia belum ngapa-ngapain kamu kan?” Tiara ikut nimbrung.
“Kalian ini suka menebar isu.” Kataku tak terima.
“Ya udah kalo tidak percaya, ntar kamu di grepe-grepe sama dia bukan urusan kami lagi. Kami sudah mewanti-wanti dirimu yah.” Mereka kompak berlalu dan meninggalkanku sendiri.

Aku tak mengerti dengan semua ini, bagiku dia adalah sosok teman yang baik. Kadang menjadi penolong di situasi yang sulit bagiku, dia juga tidak bereaksi berlebihan, memperlakukanku layaknya teman perempuan biasa dan aku pun sama. 

Sabtu, 06 Mei 2017

Day 26 0f 30 DWC

Aku Benci Mama Part 2


          Aku merenungkan perkataan Abduh. Ia benar, aku seharusnya bersyukur memiliki mama, ia telah merawatku dengan baik meski harus menjalani pekerjaan yang menjijikkan. Banyak yang berharap bertemu dengan ibunya namun tak bisa, ia lahir dan besar tanpa seorang ibu di sisinya. Aku memutuskan pulang kampung sejenak, aku ingin melihat keadaannya.
          Dan disinilah aku sekarang, berdiri di depan sebuah rumah mungil tempatku menghabiskan masa kecil dengan penuh kegembiraan. Terbayang masa ketika mama sedang mengajariku mengendarai sepeda, aku jatuh berkali-kali hingga lecet dan mama tetap sabar mengajari. Tuhan, apa yang telah kulakukan.
          Aku bergegas, mengetuk pintu dengan pelan. Tak lama suara serak terdengar dari dalam mengatakan untuk menunggu, kaki dan wajahku menegang. Dan pintu pun terbuka, aku menatap sosok yang semakin mengecil itu.
          “Nadia!” suara mama bergetar. Ia memelukku “kau pulang Nak!”
          Aku terpaku, hati perih seperti teriris sembilu. Wanita yang telah melahirkanku ini semakin tirus.
“Mama merindukanmu Nak, maafkan mama yang tak bisa menjadi ibu terbaik untukmu dan membuatmu menanggung malu sepanjang hidup!”
Tangisanku pecah tak mampu aku menahan lagi, kemarahan dan kebencianku menguap. Aku memeluknya dengan erat dan ia pun sama. Kami menangis bersama tanpa kata sampai hati terasa penuh.
Aku memutuskan tak peduli dengan masa lalu mama, tak harus mendengarkan kicauan orang sekitar, wanita ini yang telah melahirkan dan membesarkanku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya dan tak tahu kenapa hatiku terasa damai. Rupanya kebahagiaan yang kucari ada di depan mata. Mama memang memiliki masa lalu yang buruk namun aku tak mau mengungkit itu, tak ingin menambah rasa sakit yang di deritanya. Aku hanya ingin membahagiakannya, itu saja harapanku kini.


Day 25 of 30 DWC

Aku Benci Mama Part 1

          “Mama bikin aku malu!” aku berteriak dan berlari menuju kamar dengan air mata yang mengalir.
          Kemarahanku padanya bukannya tanpa sebab. Namun dia benar-benar telah menghancurkan hari terpentingku. Aku sudah mewanti-wanti agar dia tak menampakkan diri di pesta ulang tahunku namun dia tetap ngotot datang dan jadilah aku bahan tertawaan teman-teman.
          Aku sudah berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan identitas sebagai anak seorang wanita susila. Tak ingin menjadi bahan omongan dan dikucilkan dari pergaulan. Aku hanya ingin menjalani hidup layaknya manusia normal lainnya.
          Namun harapan itu pun buyar dalam semalam, mama datang ke pesta ulang tahunku dalam keadaan mabuk dengan pakaian yang begitu terbuka. Berteriak sembari mengucapkan selamat ulang tahun.
          “Selamat ulang tahun Nadia sayang, semoga kau bisa menjalani hidup dengan baik, jangan seperti Mama!” katanya dengan tubuh yang limbung.
          Semenjak peristiwa itu aku mengibarkan bendera perang dengan mama. Lahir dalam keadaan tak berayah saja sudah cukup memalukan ditambah kenyataan aku lahir dari perempuan penjaja kenikmatan itu adalah derita. Aku tak ingin terlibat lagi dengannnya, aku menyelesaikan SMA dan berpindah ke kota.
          Tahun pun berlalu dan aku menikmati hidup sendiri di kota, jauh dan terbebas dari segala macam derita yang diakibatkan masa lalu mama, seharusnya berjalan dengan baik namun tetap saja hatiku tak bahagia. Aku menjalani hidup dengan kehampaan, mencoba menghilangkan hausku akan kebahagiaan namun tak terobati juga.
          “Kau itu harus bersyukur Nadia, kamu masih memiliki Mama!” kata Abduh rekan kerja yang menjadi tempat curhatku. Aku terdiam dan merenung.
          “Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?” tambahnya.
          “Lima tahun yang lalu.” Datar aku menjawab.
          “Aku iri padamu Nad, masih ada sosok wanita yang mendoakan yang terbaik untukmu. Kau tahu kan doa seorang ibu untuk anaknya itu mustajab? Bisa jadi kesuksesan yang sekarang kamu nikmati itu merupakan jawaban dari doa ibumu. Pernahkan kau berpikir seperti itu?”
          Aku menghela nafas panjang, “apa yang harus kulakukan, aku tak mau hidupku menderita lagi. Kenyataan bahwa mamaku seorang pelacur itu sangat mengganggu?”
          “Apa pernah kau tanyakan perihal pekerjaannya itu? Bisa jadi dia melakukannya karena terpaksa.”
          Aku menggeleng.
          “Jangan menghakimi mamamu Nad, ada sebab dan akibat di dunia ini. Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan, mungkin saja ia terluka dan kamu tak tahu, malah menambah parah lukanya. Kau tahu rasanya tak memiliki ibu itu jauh lebih menyedihkan Nad, aku tak pernah tahu bagaimana wajah ibuku. Kamu seharusnya bersyukur.” Abduh menunduk dan terdengar terisak. Dia pun terluka karenaku “temui mamamu Nad, kumohon!”

Jumat, 05 Mei 2017

Day 24 of 30 DWC

Awal yang baru

Kuakui ada rasa sesak menyelimuti hati, air mata rasanya mau menggenang, ada perih mengiris di dalam dada. Namun keputusan telah ku ambil tak ingin lagi menengok ke belakang, harus menatap lurus ke depan demi sebuah pengabdian dan cinta yang suci dari seorang hamba kepada Rabbnya.
Aku mengakui kesalahan yang telah terjadi, terjatuh dan tenggelam dalam permainan yang kubuat sendiri, bermain hati dan akhirnya lelah terjebak di dalamnya dan ingin melepaskan diri. Berminggu-minggu aku memikirkan, biarkan rasa itu membuai dan akhirnya terlarut dalam rasa yang tak seharusnya, dan kini saatnya melepaskan semuanya.
Aku ingin memulai kisah dengan hati yang baru dan dengan jalan yang direstui oleh Allah. Toh jalan yang kupilih belakangan ini bukan yang tepat, hanya mengedepankan emosi dan nafsu belaka dan pada akhirnya rasa itu semakin membesar dan membutakan mataku, menggiring untuk menuju jalan yang tak di ridhoi Rabb. Yah aku bermain hati dan berbuat dosa dengan permainan itu.
Kini aku hanya ingin berbuat yang lebih baik, memberikan cinta dan menghamba dengan sepenuh hati. Tak ingin lagi terjerat dengan kegalauan yang membuat hati bersedih dan menjauh dariNya. Aku harus fokus bahwa di dunia ini bukan hanya tentang cinta kepada lain jenis tapi masih ada yang jauh lebih penting yang lebih pantas untuk digalaukan daripada masalah hati yang tak jelas seperti itu.
Mengingat kematian dan bekal yang telah dipersiapkan untuk menghadapinya, masih sanggupkah kita tertawa sementara bisa saja kain kafan kita telah dipersiapkan. Dan tentang keadaan umat yang masih saja carut-marut, menjadi bahan fitnah oleh mereka yang berkuasa dan berduit.
Karena itulah aku ingin memulai kembali dari awal. Membersihkan hati dari kotoran dan berbuat yang lebih baik di setiap harinya. Semoga bisa dan istiqomah. Bismillah!



Rabu, 03 Mei 2017

Day 23 of 30 DWC

Menantikan Amanah

Aku menatap bercak merah di hadapanku sembari kembali menitikkan air mata, usaha kami kembali belum membuahkan hasil, sel telurku belum berhasil dibuahi.
          “Kenapa kamu menangis?” Mas datang mendekat dan membelai kepalaku.
          “Gagal lagi Mas,” aku terisak “aku dapat jatah bulanan lagi.”
          “Yah sudah sabar, belum waktunya berarti.”  Mas memeluk dan menenangkanku “kita mungkin belum bisa menjadi orang tua menurut Allah, insya Allah jika waktunya telah tiba maka kita akan dikasih.
          Aku mengangguk dan masih sesenggukan. Aku tahu tentang teori itu namun rasanya masih saja sakit, dada terasa sesak, mungkin karena sudah sangat menginginkan kehadiran bayi kecil di dalam rumah.
          Pernikahanku baru menginjak usia ketiga, masih lumayan baru hanya saja hasrat ingin memiliki anak sudah semakin membesar. Apalagi ditambah pertanyaan ibu mertua yang makin sering mengusikku akhir-akhir ini, sungguh mereka menginginkan cucu dari kami segera lahir. Aku sedikit merasa gagal sebagai seorang wanita, rahimku belum juga bisa ditempati.
          Kami telah mengikuti program sejak setahun yang lalu, berpindah dari dokter yang satu ke dokter yang lain. Mencari referensi dari mereka yang lebih berpengalaman, memakan makanan penyubur hingga mencari alternatif lainnya. Seperti yang direkomendasikan teman sekantor, tentang tukang pijat yang bisa membantu mempercepat kehamilan.
          “Alamatnya di sekitar sini Mas. Jalan ini sudah seperti yang diinstruksikan Mba Nana.” Aku mencoba meyakinkan Mas setelah berulang kali menelusuri jalan yang sama.
          “Ya udah kita pulang aja Dek. Aku sudah lelah, besok aja kita cari lagi.” Kata Masku sembari memutar balik kendaraan. Aku hanya diam, pasrah.
          Sebenarnya itu sudah merupakan tanda dari Allah untuk tak melanjutkan pencarian, namun sebagai ikhtiar kami kembali mencarinya keesokan hari. Akhirnya ketemu dan yang saya dapatkan ternyata sangat mengecewakan. Ibu paranormal yang meminta mahar apabila kehamilan telah terjadi. Bukan untuk dirinya tapi teman yang membantu proses kehamilan katanya. Aku beristighfar dan mengajak suami pulang, tempat yang kami tuju rupanya tempat kesyirikan berlangsung.
          Ikhtiar kami untuk mendapatkan keturunan masih berlanjut, kali ini tanpa hal yang berbau mistis. Kami rutin mengomsumsi madu dan kurma muda, semoga saja Allah berkenan menitipkan amanah itu untuk kami. Dan kami harus lebih bersabar, banyak berdoa dan menyerahkan semua padaNya, mengikhlaskan dan menjalani peran sebagai hambaNya di dunia.
         



Selasa, 02 Mei 2017

Day 22 of 30 DWC

Untukmu sahabat

Aku pernah begitu iri padamu, kau memiliki segalanya. Bukan hanya harta yang berkecukupan yang kau miliki, keluarga yang dihormati serta wajah yang mumpuni. Itu adalah anugerah yang begitu luar biasa dari Rabb kita untukmu yang tak kumiliki.

Ketika kau menikah dan akhirnya memiliki anak maka tugasmu telah sempurna menjadi seorang wanita dan cerita baru pun dimulai. Ada bunga baru dihidupmu yang memberikan warna yang beragam serta menebarkan semerbak aroma bunga dan hidupmu kian berarti, dan aku semakin iri.

Seiring waktu berlalu kau mendapat tanda cinta dari Rabb dan berhasil melewatinya dengan tangguh, berusaha mengambil keputusan yang terbaik meski itu adalah hal yang paling dibenci Allah. Kamu menghadapinya dengan sisa tenaga, tersenyum perih dengan hati yang hancur. Semoga rasa sakitmu itu membuatmu semakin kuat.

Dan kini kau memulai hidup yang baru di tempat yang begitu jauh. Entah sudah berpuluh purnama kita tak bersua, namun yang pasti doa untukmu telah melangit, kiranya Ia memberikan yang terbaik untukmu. Aamiin.

Day 21 of 30 DWC

A Memory
Aku duduk santai dan membuka sosial media, nampak salah satu teman mengenang kejadian tiga belas tahun lalu. Saat itu kami masih duduk di kelas sebelas di salah satu SMA favorit di kota. Kami sedang mempersiapkan peringatan hari bersejarah di indonesia ‘Hari Pendidikan Nasional’. Aku bersama teman-teman sebaya bersiap menuju kantor Bupati untuk mengikuti upacara besar itu. Saatnya memperlihatkan latihan kami selama beberapa minggu.
            Aku, Yayank dan Afi berangkat bersama, dengan mengendarai bentor kami tiba di tempat acara tepat waktu. Kami bergegas menuju ke tempat yang telah dipersiapkan, nampak teman yang lain sudah tiba di tempat, aku segera menuju posisi, latihan sebentar dan upacara pun di mulai.
            Kami sedang rehat sejenak ketika insiden itu terjadi. Tempat pijakan kami roboh dan  melukai beberapa siswa, aku terselamatkan dikarenakan posisi yang berada di tepi. Sontak kami heboh dan berteriak, guru segera menenangkan dan memberikan pertolongan pertama. Tidak lama kemudian bunyi sirine memekakkan telinga mendekat, yang terluka harus segera diobati.
            Ibu guru dan beberapa teman ikut mendampingi ke rumah sakit. Namun belum reda debaran jantung kami harus menerima kabar yang tak kalah buruknya. Ambulance yang membawa teman kami terlibat kecelakaan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Akhirnya teman dan guru yang mendampingi ikut terluka bahkan lebih parah dari korban jatuh sebelumnya.
            Kami bergegas menuju rumah sakit dengan buliran air mata, takut dan prihatin atas peristiwa yang terjadi. Kami melihat ibu guru yang berdarah dan teman yang terluka di wajahnya tapi anehnya dia yang menenangkan kami. Berusaha meyakinkan bahwa yang terjadi tidaklah seburuk yang kami pikirkan. Dia hanya meminta kami berdoa yang agar semuanya baik-baik saja.
            Dan aku mengenang sosok itu, perempuan yang begitu ramah kepada semua orang, entah itu teman dekat atau hanya sekedar teman biasa. Pembawaannya yang tomboy tak mengurangi kerendahan hatinya. Dia sosok wanita tangguh dengan kebaikan yang menyelimuti hatinya. Semoga saja dia tetap terjaga seperti itu.
            Selamat Hari Pendidikan Nasional, semoga pendidikan kita semakin terbaik.
           

            

Minggu, 30 April 2017

Day 20 of 30 DWC

Manusia Bodoh

Aku sedang menikmati secangkir teh ketika Anna datang berkunjung. Sudah kuduga sikap ingin tahunya itu akan membawanya ke sini. Dengan sigap dia sudah sampai di depanku, menghirup secangkir teh yang sedang kunikmati.
“Sorry haus.” Katanya sembari menyengir.
“Silahkan dinikmati tuan putri.” Aku geleng-geleng kepala. Anak ini masih saja seenaknya sendiri.
“Jadi gimana?” Dia mulai mengeluarkan jurus.
“Apa?” Aku pura-pura tidak tahu.
Dia menarik rambutku pelan “Gak usah sok polos, gimana semalam?”
“Biasa aja, gak terjadi apa-apa. Hanya makan malam biasa yang diselingi dengan obrolan biasa.”
“Gitu doang?” Anna cemberut “dia itu calon yang paling bagus dari semua yang kukenalkan padamu. Tampan iya, mapan sudah pasti dan yang paling penting dia tipikal lelaki yang bertanggung jawab.”
“Aku tidak memungkiri hal itu, dia sempurna tapi bukan untukku.” Aku men
Anna terlihat kecewa, entah sudah berapa kali ia menghela nafas panjang.
“Seperti apa sih yang kamu cari Ni?” Anna menggenggam tanganku.
“Aku hanya mencari yang pas dan yang membuatku nyaman bersamanya.”
“Ni, aku hanya ingin kamu bahagia. Tak ingin melihatmu terus sendiri seperti ini.”
“Terima kasih Anna Sayang. Kau tahu memiliki sahabat sepertimu adalah anugerah yang terindah.”
“Tapi kamu harus janji padaku tak akan terus menerus sendiri, kamu harus bertemu seseorang untuk melengkapimu. Nantilah aku carikan yang lebih baik. Kamu harus membuka hatimu Ni.”

Aku mengangguk dan tersenyum simpul. Ada satu rahasia yang belum kubagikan ke semua bahwasanya aku sedang menunggu seseorang yang mungkin saja tidak akan pernah datang. Itu adalah kebodohan dan aku mengakuinya, hanya saja namanya masih saja memenuhi hatiku. Aku ingin membuangnya namun semakin bertahta angkuh di hati. Aku jatuh cinta pada seorang pria dan masih menunggunya seperti orang bodoh dan berharap dia akan segera datang dan memenuhi janji yang pernah kami ikrarkan bersama.

Sabtu, 29 April 2017

Day 19 of 30 DWC

Libur adalah Mitos

Menikmati pagi dalam balutan dingin sisa-sisa hujan semalam. Cucian menumpuk menanti untuk segera dijamah, aku bergerak dengan tenaga tersisa. Semalam sakit kepala menghabiskan tenaga dan menyita waktu tidurku. Efek begadang selama beberapa hari terakhir kembali mengobrak-abrik imun kampungku. Masuk angin betah menjadi sakit langgananku.
Aku harus menyelesaikan target hari ini, meskipun libur telah datang namun pekerjaan tetap setia mengganggu waktu istirahat. Aku tak mau dimarahi oleh atasan dikarenakan bersikap apatis. Apalagi ditambah dengan karakternya yang akan meluap jika pekerjaan ini tak selesai, harus menebalkan kuping dan muka. Tak ingin itu terjadi aku bergegas, email dari Ibu Nita harus segera ditindaklanjuti. Aku melongo, program kali ini berubah lagi. Entah bagaimanakah aku harus membagi pagu yang semakin menurun itu.
Bisa dipastikan para pejabat di kantor pasti merasa dirugikan. Selalu merasa kegiatan mereka yang paling penting jadi harus di support dengan maksimal. Sementara itu visi dan misi gubernur terpilih harus disokong agar masyarakat dapat melihat dan merasakan realisasi dari janji gubernur. Aku dilema, hanya pegawai baru dengan golongan terendah harus berlawanan dengan pejabat di kantor.
“Syir, kegiatan Anjab berapa pagunya?” Khafri, rekan kerja menatapku.
“Kita liat urgensinya dulu.” Aku menjawab.
“1,5 M lah. Cukup sudah tuh.” Ia menimpali.
“Gak bisa Khaf, paling tinggi 1 M yang kamu dapat, itu batas tertinggi.”
“Ayolah, 1,2 M lah.” Dia masih ngotot.
“Nggak bisa, nanti kita bicarakan dalam rapat untuk lebih jelasnya.”
Aku menghela nafas panjang, itu baru satu kegiatan. Sementara atasan langsungku juga meminta pagu yang lebih banyak. Aku linglung, harus bersikap profesional sementara aku berada dipihak yang berlawanan dengan para pejabat di kantor. Apalah dayaku yang hanya seorang pegawai baru dengan golongan terendah.
“Susun aja dulu Mba!” Mba Adel Kasubbagku menenangkan “kata Pak Karo, diselesaikan saja dulu, toh pembagian pagu 2018 belum juga dimulai. Sesuaikan dengan yang Mba susun dulu, nanti perubahannya akan dibicarakan lebih lanjut.”
“Oke Mba!” aku bersemangat.
Dan disinilah aku sekarang, menghabiskan waktu libur dengan menyelesaikan pekerjaan yang tak kunjung usai. Semoga saja hasil akhirnya maksimal dan memuaskan semua pihak.

Jumat, 28 April 2017

Day 18 of 30 DWC

Ayah
Lelaki yang semakin menua dan melemah di setiap harinya. Penyakit menggerogoti kesehatannya, nampak hanyalah tulang belulang berbungkus kulit. Jalannya tertatih, berdiri pun tubuhnya sudah tak lurus lagi. Shalat terkadang harus dilakoni dengan duduk, entah berapa kali dalam sebulan ke puskesmas untuk mengobati sakit yang tak kunjung hilang yang dideritanya.
Lelaki itu adalah ayahku. Lelaki yang kucintai sepenuh hati, tak ingin melihat ia menderita sedikitpun, tak mau melihat ia menangis dan bersedih, hanya ingin membahagiakannya.
Mungkin cintaku tak sesempurna cintanya padaku. Aku masih menjadi anak yang tak berbakti untuknya, masih seringkali membawa ia terlarut dalam dosa yang kubuat. Masih sering menyakiti hatinya dengan tingkah lancangku, maafkan anakmu ini Ayah!
Seorang pendiam yang tak bisa mengekspresikan perasaannya, hanya menyimpan untuk dirinya sendiri. Kadang terluka dengan sangat dalam namun tetap terlihat tangguh, tak ingin anaknya mengkhawatirkan hal yang bukan tugasnya.
Ia lelaki yang bertanggung jawab dan pekerja keras, tak pernah diam di usianya yang tak lagi muda. Mulai dari berdagang ketika belia dan akhirnya menjadi petani hingga ia menua. Mencari harta halal untuk anak dan istrinya, melaksanakan tugas sebagai pemimpin keluarga.
Lelaki yang menjadi cinta pertama anak perempuannya. Lelaki yang akan selalu dicintai dan dipuja, ingin membahagiakan dan menjadi kebanggaannya untukmu lelaki yang kusebut ayah. 

Kamis, 27 April 2017

Day 17 of 30 DWC

Wanita Tangguh

Jika melihat sesaat maka kau akan mengatakan bahwa dia hanyalah wanita biasa, bahkan mungkin wanita yang terlalu over acting apalagi jika ditambah dengan tingkahnya yang terlalu berlebihan jika berbicara tentang pria idaman. Terlalu sering aku mendengar tentang tipe pria idamannya yang mungkin terlalu tinggi untuk dijangkau, namun dia tetap kokoh dengan pendiriannya dan yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin.
Namun jika kamu mengenalnya lebih dekat maka akan ditemukan mutiara di sana. Hati yang begitu humble, rendah hati, kepintaran yang luar biasa setidaknya menurutku. Berprinsip dalam menjalani hidupnya, bekerja dengan ikhlas dan tetap berada dalam jalur. Seorang workholic sejati, benar-benar pekerja keras. Dia lebih memilih sibuk dengan pekerjaan agar tak terlarut dalam pemikiran yang bisa menggalaukan wanita dewasa.
Tak pernah mengeluh meski harus berjibaku dengan kerjaan yang menumpuk. Bukan hanya yang menjadi tugasnya tapi juga tugas atasan yang menurutku di luar batas kemampuan. Jika aku berada dalam posisinya maka akan menyerah, tak sanggup menghadapi kerjaan yang luar biasa itu, tapi dia dengan santainya masih bisa tersenyum dan mengerjakannya. Sungguh wanita yang tangguh.

Aku hanya menitipkan saran untukmu, tetaplah menjadi wanita tangguh seperti dirimu sekarang. Tak usah kau dengarkan perkataan yang melemahkan itu. Kuatlah seperti keyakinanmu dan jika kelak kau telah berada di surga maka panggillah aku ke sana. Semoga pertemanan dan persaudaraan kita tetap awet hingga ke surga kelak. Aamiin!!

Rabu, 26 April 2017

Day 16 of 30DWC

Nisa

Seperti biasa Nisa mulai beraksi, entah sudah berapa banyak gaya yang dikeluarkan, miring kanan, miring kiri, manyunkan bibir dan gaya-gaya alay yang lain.
            “Sudahlah Sa. Banyak sudah tuh fotomu, penuh  memorinya nanti!” aku mengingatkan
            Ia tak menjawab hanya memanyunkan bibir dan wajah yang ditekuk. Dia pasti kesal karena hobby fotonya kuhentikan. Kalo tidak begitu maka kami masih akan terjebak di tempat ini sementara senja sudah mulai menyapa. Kami bergegas pulang.
            Nisa namanya, keponakanku yang masih remaja dan saat ini tengah bersekolah di Sekolah Menengah Pertama kelas delapan. Seperti kebanyakan remaja putri yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan menonton tivi, melihat drama dan sinetron yang tidak bermutu dan menghabiskan waktunya memikirkan salah satu aktor muda yang tengah digandrungi saat ini.
            Ketika sinetron favoritnya akan segera ditayangkan maka dia akan menguasai remote tivi dan tidak membiarkan yang lain mengusiknya. Tak peduli harus berhadapan dengan kami yang lebih dewasa, intinya sinetron itu tak boleh terlewatkan bagaimanapun caranya, dan jika kami mengingatkan maka hanya cemberut dan kaki yang dihentakkan  menjadi jawabannya.
            Pernah di suatu waktu ketika kami sedang tidur bersama aku terbangun tengah malam untuk pipis. Kebiasaan setelah terbangun maka akan susah untuk tidur kembali, anak ini dengan sengaja bangun menatap ponsel dengan latar belakang wajah aktor favoritnya dan kemudian melanjutkan tidur. aku hanya geleng-geleng kepala dan ketika kutanyai besoknya dia hanya tersenyum lebar.
            “Aku juga pernah seusiamu tapi tak separah dirimu dalam menyukai sesuatu.” Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya.
            “Gak papa kali Tante, toh hanya foto!” Nisa membela diri.
            “Bukannya seperti itu, menyukai sewajarnya saja. Bukan dengan dihayalkan dan dihadirkan dalam mimpi begitu.”
            “Namanya juga suka.” Pendek dan berlalu meninggalkanku.
            Masih banyak kata yang ingin kuucapkan namun dia telah beranjak. Ingin kukatakan tentang wanita-wanita tangguh nan solehah yang memiliki kisah luar biasa, tentang keteladanan Ummul Mukminin yang akhlaknya tak diragukan lagi.
            Memang tak  mudah untuk mendidik anak perempuan, patutlah mereka yang bisa menjaga putrinya dengan baik akan datang bersama Rasulullah dan mendapat surga pada hari akhir kelak. Semoga saja Nisa kelak akan tumbuh dan menjadi perempuan yang solehah dan bisa menghadiahkan surga untuk kedua orang tuanya.


            

Selasa, 25 April 2017

Day 15 of 30 DWC

Apakah aku jatuh cinta?

Aku terkena batunya, ketula oleh ucapan sendiri dan seperti inilah aku sekarang, berdebar tak menentu meski hanya memikirkan wajahnya. Tak kupungkiri hanya dia kini yang bertahta di benak.
“Na!” lengkingan Windy mengagetkan.
“Windy, apa-apaan sih kamu, jantungku hampir copot tau!” kataku dengan nada yang meninggi.
“Lagian kamu daritadi dipanggil nggak nyahut-nyahut juga. Aku kan jadi sebel!” windy manyun “mikirin opo sih?”
“Nggak, lagi ngeblank aja.” Aku menghindar. Belum waktunya aku berbagi cerita.
“Dasar aneh, jangan suka ngeblank, ntar kesambet tau rasa lo!” Windy kesel spontan menoyor kepalaku.
“Sakit tau!” aku marah
“Biarin! Aku mau ngajakin makan tapi sudah males” kata Windy sembari berlalu meninggalkan aku sendiri.
Biarlah dia berlalu, aku harus menenangkan dadaku sendiri, tidak boleh ketahuan olehnya. Kalo nggak aku bisa menjadi bulan-bulanan dia.
Bukan karena Sidia tak bisa dibanggakan, hanya saja belum siap dengan hatiku sendiri. Aku masih gamang dan kebingungan. Bisa saja rasa yang muncul hanya karena keseringan mendengar namanya disandingkan dengan namaku belakangan ini.
“Udah, kalian sudah pas satu sama lain!” Mba Gea, teman sekantorku mulai memanas-manasi.
Aku hanya bisa tersenyum sementara yang lain mengaminkan dan mulai menyusun cerita yang belum pasti terjadi. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Tak pernah kubayangkan akan terlibat dalam kisah yang begitu rumit seperti ini, setidaknya menghabiskan banyak waktuku untuk memikirkannya.
Aku masih ingat prinsip yang kupegang teguh, tak akan terjatuh untuk orang yang seperti dia. Logika menolak dia namun hati tak berpihak padaku, dia menjadi musuh utama melawan rasa ini.
“Ngaku saja apa susahnya sih!”
“Kalian itu sama-sama gengsi, nggak ada yang mau mengaku!”
“Kalau aku liat, kalian memiliki rasa yang sama.”
“Dia itu suka sama kamu!”
Ucapan-ucapan seperti itu yang membuatku melayang dan menjatuhkan hatiku lebih dalam, ditambah sifatnya yang belakangan ini semakin membaik dimataku. Namun aku belum mendengarkan apapun dari mulutnya kecuali perkataan yang kuanggap sebagai lelucon saja atau aku yang kurang peka dengan sikap dan perkataannya selama ini.
Ah, aku benci jika harus meraba seperti ini, benci jika harus melemah seperti ini. Namun tak dapat kupungkiri, ada desir rindu yang tumbuh dihati jika tak menjumpainya. Apakah aku telah jatuh cinta? Entahlah aku masih gamang.



Senin, 24 April 2017

Day 14 of 30 DWC

Klepto Cantik Part 2

Dia terlihat merenung, matanya menatap ke atas seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Baiklah, untuk membuktikan bahwa kamu tidak bersalah maka kamu harus melakukan sesuatu,” aku berkeliling “tapi ingat, jika nanti terungkap bahwa kamu pelakunya maka aku akan sangat kecewa. Akan lebih baik jika kamu mengaku khilaf, meminta maaf maka masalah akan selesai dibanding mengelak namun hasil akhirnya mengecewakan.” Aku menegaskan.
Aku masuk ke kamar dan keluar membawa sebuah kitab suci Al Qur’an cara terakhir yang bisa kulakukan.
“Apa kamu bersumpah di atas Al Qur’an ini?”
Dia terdiam, gamang dan aku menunggu.
“Maafkan aku, aku khilaf,” seketika ia bersujud di lantai “aku tak bermaksud mengambil hanya ingin meminjamnya, namun aku takut mengatakan maksudku.” Lanjutnya. Nampak butiran-butiran kecil terjatuh di pipinya.
Aku menarik nafas panjang, ”tak apa, jujur lebih baik.”
“aku tak bermaksud mencurinya. Aku hanya ingin menghubungi teman karena ada sesuatu yang harus disampaikan. Maafkan aku!” ia mengiba.
 Dan pada akhirnya pengakuan itu kudapatkan. Rasa-rasanya masalah hampir terselesaikan, ponsel telah kembali. Namun rupanya gadis manis ini memanglah seseorang yang bisa dipercaya. Bukan hanya sekali dia berulah seperti ini, sebuah ponsel baru pernah ditemukan di lemarinya menurut penuturan teman serumahnya. Ditambah pengakuan teman sekelasnya yang harus mengganti rugi duit sumbangan yang tetiba menghilang ketika ditangannya. Sangat disayangkan gadis muda dengan perawakan yang begitu menarik ini memiliki sifat yang kurang baik. Ternyata wajah itu memang bukanlah jaminan bahwa hati akan seindah dengan rupa yang terlihat. 

Minggu, 23 April 2017

Day 13 of 30DWC

Klepto Cantik Part 1


          Aku berusaha meredam emosi kakak, kekesalannya sudah mencapai batas. Emosinya harus didinginkan terlebih dahulu.
          “Biar aku yang menghadapinya. Kakak di sini saja!” kataku kemudian meninggalkan kakak yang masih marah.
          Kemarahannya bisa dimaklumi, ponselnya telah menghilang dikarenakan ulah anak didik sendiri. Awalnya aku tak ambil pusing ketika kakak heboh kehilangan ponsel, toh itu hanya ponsel jadul dan tak terlalu berharga. Aku pikir dia hanya salah taruh di suatu tempat hingga pada akhirnya beberapa  kejanggalan bermunculan dan diambil kesimpulan bahwa ponsel itu telah dicuri.
          Kemarin sore rumah kami kedatangan anak didik kakakku yang ingin belajar lebih intens. Empat orang dara datang dan menghabiskan sorenya di rumah dengan mengotak-atik rumus matematika. Tak ada yang janggal ketika itu. Diantara keempat orang itu, dua diantaranya adalah keponakan kami.
          “Jadi bukan kamu yang mengambilnya?” aku bertanya sembari menatap mata gadis muda di depanku.
          “Bukan aku Tante, mana mungkin aku sejahat itu. Kalian itu kan tanteku, mana mungkin aku menusuk dari belakang.” Dia mencoba menyakinkan.
          “Oke, aku terima.” Kataku memancing “Namun, jika kamu ketahuan berbohong nanti akan ada konsekuensi yang kamu terima.”
          “Baiklah.” Jawabnya santai.
          Aku mencoba pendekatan lain, aku harus mendapatkan pengakuan.
          “Setiap orang itu pernah melakukan kesalahan, tak ada manusia yang suci. Permintaan maaf dari seseorang yang telah berbuat khilaf itu sangat dihargai dibanding seseorang yang salah namun ngotot dengan kesalahannya,” aku menghela nafas “Tante tidak akan marah jika kamu pelakunya asalkan kamu mengakui dan meminta maaf, kita semua pernah berbuat khilaf.”
          Dia terlihat merenung, matanya menerawang, pandangannya kosong.


Day 12 of 30 DWC

Cerita ini terinspirasi dari kejadian yang baru saja terjadi di kotaku. Sedikit miris dan semoga ALLAH menjaga kita dari akhir hidup yang buruk. 

Malam yang Bisu

Malam kian larut, kendaraan mulai menyepi dan Barly masih menunggu. Sesekali lelaki seperempat abad itu mengecek ponselnya.
“Kemana perempuan itu?” gumam Barly “seharusnya dia sudah sampai sekarang.” Lanjut Barly.
Tak lama kemudian seorang perempuan dengan pakaian mini mendekat. Dengan santai mengisap rokoknya dalam dalam “Sorry, tadi ada sedikit keperluan.”
“Aku pikir kau tak datang, untung saja aku belum menelpon yang lain.” Kata Barly sedikit mendengus.
“Jangan begitu Bang, aku Cuma telat 30 menit.” Kata wanita itu.
“Oke, ayoklah. Aku ada barang baru, tak sabar pengen membuktikannya.” Kata Barly memegang tangan perempuan itu.
Mereka memasuki mobil dan kemudian mengendara beberapa menit dan tibalah di salah satu penginapan murah di pinggir kota. Mereka berjalan menuju resepsionis dan memesan sebuah kamar dan menuju kamar tersebut.
“Kau mandilah dulu!” Kata Barly menyuruh perempuan itu.
“Aku pikir langsung action saja, bukannya kamu sudah tak tahan.” Goda wanita itu.
“Mandi sono, segarkan dirimu, akan kubuat keok dirimu!” kata Barly sembari memperlihatkan sebotol minuman. “Obat kuat paling manjur.” Ia tertawa keras.
Barly membuka minuman itu dan menenggaknya. Sesaat ia terlihat baik-baik saja dan tak lama kemudian ia memegang dadanya. Ia terlihat kesakitan mencoba mengeluarkan suara permintaan tolong namun tak terdengar. Wanita yang sedang mandi tak mendengar apapun. Barly semakin kesakitan dan menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia tak bergerak.
Wanita yang menemaninya keluar dari kamar mandi dengan setengah bugil. Hanya handuk kecil yang menutupi tubuhnya. Ia mendekat ,”aku sudah siap Bang!” katanya kemudian.
Namun apa yang ia lihat, lelaki itu tak bergerak dengan mata melotot. Tubuh bugilnya terlihat kaku, sontak ia kaget. Dengan segera ia berpakaian, mengambil dompet yang terletak di samping tempat tidur dan pergi begitu saja.
Dua hari kemudian kejadian ini menghiasi headline koran. Telah ditemukan sosok lelaki tak berbaju meninggal di penginapan di luar kota. Kenikmatan yang dinantikan berakhir dengan akhir yang tragis, menghadap Tuhan dalam keadaan bermaksiat.