Kamis, 18 Februari 2016

Sebuah Kisah Dari Ujung Kalimantan



Akhirnya setelah sekian lama ku tak menjumpai blog ini, keberanian untuk menyusun aksara kembali terisi. Kali ini izinkanlah aku menceritakan tentang kehidupan yang kali ini harus kujalani di tanah rantau. Meski baru setahun tapi tetap saja ada banyak cerita yang tak terungkapkan.

Well, sekarang aku harus menjalani hidup di pulau seberang dari tanah kelahiranku. Kalimanta Utara, provinsi ke 34 Indonesia. Provinsi termuda yang masih berusia 2 tahun 10 bulan dengan ibukota Tanjung Selor. Siapa yang akan menyangka bahwa pada akhirnya seorang Sitti Nasirah akan menghabiskan sebagian hidupnya di tempat ini. 

Tanjung Selor dikelilingi oleh air. Sungai-sungai panjang dengan lebar puluhan meter dan masih dihuni oleh hewan pemangsa yang seringkali diidentikkan dengan lelaki yang selalu mempermainkan perempuan. Meski belum pernah melihatnya secara langsung dan memang tak memiliki minat namun konon memiliki bobot yang lumayan besar. 

Jujur saja kota ini tak lebih ramai dari kota tempat tinggalku. Meski ibukota provinsi namun suasana kota belum terasa. Tak ada mall, bioskop, dan tempat yang kekinian dan kekotaan. Hanya ada Pasar Induk yang tak lebih ramai dari Pasar Sentral di daerahku. Bahkan kendaraan atau aku menyebutnya pete-pete masih jarang dan kebanyakan masih menggunakan mobil yang tak kekinian. 

Jangan tanyakan tentang harga-harga di tempat ini. Sedikit shock ketika pertama kali berkunjung ke pasar. Bisa dibayangkan budget yang harus dipersiapkan. Setidaknya dua kali lipat dari harga biasanya.

Berbicara tentang penduduk kota ini benar-benar plural. Campuran dari berbagai suku di Indonesia. Jawa, bugis, dayak, melayu menjadi satu kesatuan. Ada sedikit ketakutan ketika nantinya tak bisa bersosialisasi di sini ditambah konflik yang dulu pernah meluas dan melibatkan sukuku dan suku asli kota ini. Namun hal itu tak lagi menjadi masalah, semuanya berbaur dengan baik sebagai orang Indonesia. Setidaknya itu yang kurasakan dengan teman-teman sekantor dan lingkungan. Meski beberapa waktu lalu sempat terjadi kericuhan di kantor kami sehingga membuat suasana kota ini sedikit mencekam namun pada akhirnya semua berakhir dengan penyelesaian yang dewasa dan intelektual. Semoga saja damai yang seperti ini tetap terjaga.

Di tempat ini juga kutemukan saudara-saudari baru. Ada Mba Yohani, Si lembut dari Surabaya. Ada Abeth, Si Tinggi nan Putih penduduk asli pulau ini. Ada Mba Indarti, perempuan paling cerewet namun baik hati dari Banjar Negara. Ada Bu Radiah, Ibu Kasubbag Bijaksana nan Pintar dan teman-teman lain yang tentunya dengan keunikannya masing-masing. Sungguh bertemu kalian adalah suatu kehormatan.

Cukup untuk hari ini, lain kali akan kubagikan kisah selanjutnya. Sebenarnya ingin membagikan kisah konyol teman-temanku namun mba indarti sudah cuap-cuap meminta laptop. Oke see u next time.