Manusia Bodoh
Aku sedang menikmati
secangkir teh ketika Anna datang berkunjung. Sudah kuduga sikap ingin tahunya
itu akan membawanya ke sini. Dengan sigap dia sudah sampai di depanku,
menghirup secangkir teh yang sedang kunikmati.
“Sorry haus.” Katanya sembari
menyengir.
“Silahkan dinikmati tuan
putri.” Aku geleng-geleng kepala. Anak ini masih saja seenaknya sendiri.
“Jadi gimana?” Dia mulai
mengeluarkan jurus.
“Apa?” Aku pura-pura tidak
tahu.
Dia menarik rambutku pelan “Gak
usah sok polos, gimana semalam?”
“Biasa aja, gak terjadi
apa-apa. Hanya makan malam biasa yang diselingi dengan obrolan biasa.”
“Gitu doang?” Anna cemberut
“dia itu calon yang paling bagus dari semua yang kukenalkan padamu. Tampan iya,
mapan sudah pasti dan yang paling penting dia tipikal lelaki yang bertanggung
jawab.”
“Aku tidak memungkiri hal
itu, dia sempurna tapi bukan untukku.” Aku men
Anna terlihat kecewa, entah
sudah berapa kali ia menghela nafas panjang.
“Seperti apa sih yang kamu
cari Ni?” Anna menggenggam tanganku.
“Aku hanya mencari yang pas
dan yang membuatku nyaman bersamanya.”
“Ni, aku hanya ingin kamu
bahagia. Tak ingin melihatmu terus sendiri seperti ini.”
“Terima kasih Anna Sayang. Kau
tahu memiliki sahabat sepertimu adalah anugerah yang terindah.”
“Tapi kamu harus janji
padaku tak akan terus menerus sendiri, kamu harus bertemu seseorang untuk
melengkapimu. Nantilah aku carikan yang lebih baik. Kamu harus membuka hatimu
Ni.”
Aku mengangguk dan
tersenyum simpul. Ada satu rahasia yang belum kubagikan ke semua bahwasanya aku
sedang menunggu seseorang yang mungkin saja tidak akan pernah datang. Itu adalah
kebodohan dan aku mengakuinya, hanya saja namanya masih saja memenuhi hatiku. Aku
ingin membuangnya namun semakin bertahta angkuh di hati. Aku jatuh cinta pada
seorang pria dan masih menunggunya seperti orang bodoh dan berharap dia akan
segera datang dan memenuhi janji yang pernah kami ikrarkan bersama.
