Minggu, 30 April 2017

Day 20 of 30 DWC

Manusia Bodoh

Aku sedang menikmati secangkir teh ketika Anna datang berkunjung. Sudah kuduga sikap ingin tahunya itu akan membawanya ke sini. Dengan sigap dia sudah sampai di depanku, menghirup secangkir teh yang sedang kunikmati.
“Sorry haus.” Katanya sembari menyengir.
“Silahkan dinikmati tuan putri.” Aku geleng-geleng kepala. Anak ini masih saja seenaknya sendiri.
“Jadi gimana?” Dia mulai mengeluarkan jurus.
“Apa?” Aku pura-pura tidak tahu.
Dia menarik rambutku pelan “Gak usah sok polos, gimana semalam?”
“Biasa aja, gak terjadi apa-apa. Hanya makan malam biasa yang diselingi dengan obrolan biasa.”
“Gitu doang?” Anna cemberut “dia itu calon yang paling bagus dari semua yang kukenalkan padamu. Tampan iya, mapan sudah pasti dan yang paling penting dia tipikal lelaki yang bertanggung jawab.”
“Aku tidak memungkiri hal itu, dia sempurna tapi bukan untukku.” Aku men
Anna terlihat kecewa, entah sudah berapa kali ia menghela nafas panjang.
“Seperti apa sih yang kamu cari Ni?” Anna menggenggam tanganku.
“Aku hanya mencari yang pas dan yang membuatku nyaman bersamanya.”
“Ni, aku hanya ingin kamu bahagia. Tak ingin melihatmu terus sendiri seperti ini.”
“Terima kasih Anna Sayang. Kau tahu memiliki sahabat sepertimu adalah anugerah yang terindah.”
“Tapi kamu harus janji padaku tak akan terus menerus sendiri, kamu harus bertemu seseorang untuk melengkapimu. Nantilah aku carikan yang lebih baik. Kamu harus membuka hatimu Ni.”

Aku mengangguk dan tersenyum simpul. Ada satu rahasia yang belum kubagikan ke semua bahwasanya aku sedang menunggu seseorang yang mungkin saja tidak akan pernah datang. Itu adalah kebodohan dan aku mengakuinya, hanya saja namanya masih saja memenuhi hatiku. Aku ingin membuangnya namun semakin bertahta angkuh di hati. Aku jatuh cinta pada seorang pria dan masih menunggunya seperti orang bodoh dan berharap dia akan segera datang dan memenuhi janji yang pernah kami ikrarkan bersama.

Sabtu, 29 April 2017

Day 19 of 30 DWC

Libur adalah Mitos

Menikmati pagi dalam balutan dingin sisa-sisa hujan semalam. Cucian menumpuk menanti untuk segera dijamah, aku bergerak dengan tenaga tersisa. Semalam sakit kepala menghabiskan tenaga dan menyita waktu tidurku. Efek begadang selama beberapa hari terakhir kembali mengobrak-abrik imun kampungku. Masuk angin betah menjadi sakit langgananku.
Aku harus menyelesaikan target hari ini, meskipun libur telah datang namun pekerjaan tetap setia mengganggu waktu istirahat. Aku tak mau dimarahi oleh atasan dikarenakan bersikap apatis. Apalagi ditambah dengan karakternya yang akan meluap jika pekerjaan ini tak selesai, harus menebalkan kuping dan muka. Tak ingin itu terjadi aku bergegas, email dari Ibu Nita harus segera ditindaklanjuti. Aku melongo, program kali ini berubah lagi. Entah bagaimanakah aku harus membagi pagu yang semakin menurun itu.
Bisa dipastikan para pejabat di kantor pasti merasa dirugikan. Selalu merasa kegiatan mereka yang paling penting jadi harus di support dengan maksimal. Sementara itu visi dan misi gubernur terpilih harus disokong agar masyarakat dapat melihat dan merasakan realisasi dari janji gubernur. Aku dilema, hanya pegawai baru dengan golongan terendah harus berlawanan dengan pejabat di kantor.
“Syir, kegiatan Anjab berapa pagunya?” Khafri, rekan kerja menatapku.
“Kita liat urgensinya dulu.” Aku menjawab.
“1,5 M lah. Cukup sudah tuh.” Ia menimpali.
“Gak bisa Khaf, paling tinggi 1 M yang kamu dapat, itu batas tertinggi.”
“Ayolah, 1,2 M lah.” Dia masih ngotot.
“Nggak bisa, nanti kita bicarakan dalam rapat untuk lebih jelasnya.”
Aku menghela nafas panjang, itu baru satu kegiatan. Sementara atasan langsungku juga meminta pagu yang lebih banyak. Aku linglung, harus bersikap profesional sementara aku berada dipihak yang berlawanan dengan para pejabat di kantor. Apalah dayaku yang hanya seorang pegawai baru dengan golongan terendah.
“Susun aja dulu Mba!” Mba Adel Kasubbagku menenangkan “kata Pak Karo, diselesaikan saja dulu, toh pembagian pagu 2018 belum juga dimulai. Sesuaikan dengan yang Mba susun dulu, nanti perubahannya akan dibicarakan lebih lanjut.”
“Oke Mba!” aku bersemangat.
Dan disinilah aku sekarang, menghabiskan waktu libur dengan menyelesaikan pekerjaan yang tak kunjung usai. Semoga saja hasil akhirnya maksimal dan memuaskan semua pihak.

Jumat, 28 April 2017

Day 18 of 30 DWC

Ayah
Lelaki yang semakin menua dan melemah di setiap harinya. Penyakit menggerogoti kesehatannya, nampak hanyalah tulang belulang berbungkus kulit. Jalannya tertatih, berdiri pun tubuhnya sudah tak lurus lagi. Shalat terkadang harus dilakoni dengan duduk, entah berapa kali dalam sebulan ke puskesmas untuk mengobati sakit yang tak kunjung hilang yang dideritanya.
Lelaki itu adalah ayahku. Lelaki yang kucintai sepenuh hati, tak ingin melihat ia menderita sedikitpun, tak mau melihat ia menangis dan bersedih, hanya ingin membahagiakannya.
Mungkin cintaku tak sesempurna cintanya padaku. Aku masih menjadi anak yang tak berbakti untuknya, masih seringkali membawa ia terlarut dalam dosa yang kubuat. Masih sering menyakiti hatinya dengan tingkah lancangku, maafkan anakmu ini Ayah!
Seorang pendiam yang tak bisa mengekspresikan perasaannya, hanya menyimpan untuk dirinya sendiri. Kadang terluka dengan sangat dalam namun tetap terlihat tangguh, tak ingin anaknya mengkhawatirkan hal yang bukan tugasnya.
Ia lelaki yang bertanggung jawab dan pekerja keras, tak pernah diam di usianya yang tak lagi muda. Mulai dari berdagang ketika belia dan akhirnya menjadi petani hingga ia menua. Mencari harta halal untuk anak dan istrinya, melaksanakan tugas sebagai pemimpin keluarga.
Lelaki yang menjadi cinta pertama anak perempuannya. Lelaki yang akan selalu dicintai dan dipuja, ingin membahagiakan dan menjadi kebanggaannya untukmu lelaki yang kusebut ayah. 

Kamis, 27 April 2017

Day 17 of 30 DWC

Wanita Tangguh

Jika melihat sesaat maka kau akan mengatakan bahwa dia hanyalah wanita biasa, bahkan mungkin wanita yang terlalu over acting apalagi jika ditambah dengan tingkahnya yang terlalu berlebihan jika berbicara tentang pria idaman. Terlalu sering aku mendengar tentang tipe pria idamannya yang mungkin terlalu tinggi untuk dijangkau, namun dia tetap kokoh dengan pendiriannya dan yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin.
Namun jika kamu mengenalnya lebih dekat maka akan ditemukan mutiara di sana. Hati yang begitu humble, rendah hati, kepintaran yang luar biasa setidaknya menurutku. Berprinsip dalam menjalani hidupnya, bekerja dengan ikhlas dan tetap berada dalam jalur. Seorang workholic sejati, benar-benar pekerja keras. Dia lebih memilih sibuk dengan pekerjaan agar tak terlarut dalam pemikiran yang bisa menggalaukan wanita dewasa.
Tak pernah mengeluh meski harus berjibaku dengan kerjaan yang menumpuk. Bukan hanya yang menjadi tugasnya tapi juga tugas atasan yang menurutku di luar batas kemampuan. Jika aku berada dalam posisinya maka akan menyerah, tak sanggup menghadapi kerjaan yang luar biasa itu, tapi dia dengan santainya masih bisa tersenyum dan mengerjakannya. Sungguh wanita yang tangguh.

Aku hanya menitipkan saran untukmu, tetaplah menjadi wanita tangguh seperti dirimu sekarang. Tak usah kau dengarkan perkataan yang melemahkan itu. Kuatlah seperti keyakinanmu dan jika kelak kau telah berada di surga maka panggillah aku ke sana. Semoga pertemanan dan persaudaraan kita tetap awet hingga ke surga kelak. Aamiin!!

Rabu, 26 April 2017

Day 16 of 30DWC

Nisa

Seperti biasa Nisa mulai beraksi, entah sudah berapa banyak gaya yang dikeluarkan, miring kanan, miring kiri, manyunkan bibir dan gaya-gaya alay yang lain.
            “Sudahlah Sa. Banyak sudah tuh fotomu, penuh  memorinya nanti!” aku mengingatkan
            Ia tak menjawab hanya memanyunkan bibir dan wajah yang ditekuk. Dia pasti kesal karena hobby fotonya kuhentikan. Kalo tidak begitu maka kami masih akan terjebak di tempat ini sementara senja sudah mulai menyapa. Kami bergegas pulang.
            Nisa namanya, keponakanku yang masih remaja dan saat ini tengah bersekolah di Sekolah Menengah Pertama kelas delapan. Seperti kebanyakan remaja putri yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan menonton tivi, melihat drama dan sinetron yang tidak bermutu dan menghabiskan waktunya memikirkan salah satu aktor muda yang tengah digandrungi saat ini.
            Ketika sinetron favoritnya akan segera ditayangkan maka dia akan menguasai remote tivi dan tidak membiarkan yang lain mengusiknya. Tak peduli harus berhadapan dengan kami yang lebih dewasa, intinya sinetron itu tak boleh terlewatkan bagaimanapun caranya, dan jika kami mengingatkan maka hanya cemberut dan kaki yang dihentakkan  menjadi jawabannya.
            Pernah di suatu waktu ketika kami sedang tidur bersama aku terbangun tengah malam untuk pipis. Kebiasaan setelah terbangun maka akan susah untuk tidur kembali, anak ini dengan sengaja bangun menatap ponsel dengan latar belakang wajah aktor favoritnya dan kemudian melanjutkan tidur. aku hanya geleng-geleng kepala dan ketika kutanyai besoknya dia hanya tersenyum lebar.
            “Aku juga pernah seusiamu tapi tak separah dirimu dalam menyukai sesuatu.” Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya.
            “Gak papa kali Tante, toh hanya foto!” Nisa membela diri.
            “Bukannya seperti itu, menyukai sewajarnya saja. Bukan dengan dihayalkan dan dihadirkan dalam mimpi begitu.”
            “Namanya juga suka.” Pendek dan berlalu meninggalkanku.
            Masih banyak kata yang ingin kuucapkan namun dia telah beranjak. Ingin kukatakan tentang wanita-wanita tangguh nan solehah yang memiliki kisah luar biasa, tentang keteladanan Ummul Mukminin yang akhlaknya tak diragukan lagi.
            Memang tak  mudah untuk mendidik anak perempuan, patutlah mereka yang bisa menjaga putrinya dengan baik akan datang bersama Rasulullah dan mendapat surga pada hari akhir kelak. Semoga saja Nisa kelak akan tumbuh dan menjadi perempuan yang solehah dan bisa menghadiahkan surga untuk kedua orang tuanya.


            

Selasa, 25 April 2017

Day 15 of 30 DWC

Apakah aku jatuh cinta?

Aku terkena batunya, ketula oleh ucapan sendiri dan seperti inilah aku sekarang, berdebar tak menentu meski hanya memikirkan wajahnya. Tak kupungkiri hanya dia kini yang bertahta di benak.
“Na!” lengkingan Windy mengagetkan.
“Windy, apa-apaan sih kamu, jantungku hampir copot tau!” kataku dengan nada yang meninggi.
“Lagian kamu daritadi dipanggil nggak nyahut-nyahut juga. Aku kan jadi sebel!” windy manyun “mikirin opo sih?”
“Nggak, lagi ngeblank aja.” Aku menghindar. Belum waktunya aku berbagi cerita.
“Dasar aneh, jangan suka ngeblank, ntar kesambet tau rasa lo!” Windy kesel spontan menoyor kepalaku.
“Sakit tau!” aku marah
“Biarin! Aku mau ngajakin makan tapi sudah males” kata Windy sembari berlalu meninggalkan aku sendiri.
Biarlah dia berlalu, aku harus menenangkan dadaku sendiri, tidak boleh ketahuan olehnya. Kalo nggak aku bisa menjadi bulan-bulanan dia.
Bukan karena Sidia tak bisa dibanggakan, hanya saja belum siap dengan hatiku sendiri. Aku masih gamang dan kebingungan. Bisa saja rasa yang muncul hanya karena keseringan mendengar namanya disandingkan dengan namaku belakangan ini.
“Udah, kalian sudah pas satu sama lain!” Mba Gea, teman sekantorku mulai memanas-manasi.
Aku hanya bisa tersenyum sementara yang lain mengaminkan dan mulai menyusun cerita yang belum pasti terjadi. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Tak pernah kubayangkan akan terlibat dalam kisah yang begitu rumit seperti ini, setidaknya menghabiskan banyak waktuku untuk memikirkannya.
Aku masih ingat prinsip yang kupegang teguh, tak akan terjatuh untuk orang yang seperti dia. Logika menolak dia namun hati tak berpihak padaku, dia menjadi musuh utama melawan rasa ini.
“Ngaku saja apa susahnya sih!”
“Kalian itu sama-sama gengsi, nggak ada yang mau mengaku!”
“Kalau aku liat, kalian memiliki rasa yang sama.”
“Dia itu suka sama kamu!”
Ucapan-ucapan seperti itu yang membuatku melayang dan menjatuhkan hatiku lebih dalam, ditambah sifatnya yang belakangan ini semakin membaik dimataku. Namun aku belum mendengarkan apapun dari mulutnya kecuali perkataan yang kuanggap sebagai lelucon saja atau aku yang kurang peka dengan sikap dan perkataannya selama ini.
Ah, aku benci jika harus meraba seperti ini, benci jika harus melemah seperti ini. Namun tak dapat kupungkiri, ada desir rindu yang tumbuh dihati jika tak menjumpainya. Apakah aku telah jatuh cinta? Entahlah aku masih gamang.



Senin, 24 April 2017

Day 14 of 30 DWC

Klepto Cantik Part 2

Dia terlihat merenung, matanya menatap ke atas seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Baiklah, untuk membuktikan bahwa kamu tidak bersalah maka kamu harus melakukan sesuatu,” aku berkeliling “tapi ingat, jika nanti terungkap bahwa kamu pelakunya maka aku akan sangat kecewa. Akan lebih baik jika kamu mengaku khilaf, meminta maaf maka masalah akan selesai dibanding mengelak namun hasil akhirnya mengecewakan.” Aku menegaskan.
Aku masuk ke kamar dan keluar membawa sebuah kitab suci Al Qur’an cara terakhir yang bisa kulakukan.
“Apa kamu bersumpah di atas Al Qur’an ini?”
Dia terdiam, gamang dan aku menunggu.
“Maafkan aku, aku khilaf,” seketika ia bersujud di lantai “aku tak bermaksud mengambil hanya ingin meminjamnya, namun aku takut mengatakan maksudku.” Lanjutnya. Nampak butiran-butiran kecil terjatuh di pipinya.
Aku menarik nafas panjang, ”tak apa, jujur lebih baik.”
“aku tak bermaksud mencurinya. Aku hanya ingin menghubungi teman karena ada sesuatu yang harus disampaikan. Maafkan aku!” ia mengiba.
 Dan pada akhirnya pengakuan itu kudapatkan. Rasa-rasanya masalah hampir terselesaikan, ponsel telah kembali. Namun rupanya gadis manis ini memanglah seseorang yang bisa dipercaya. Bukan hanya sekali dia berulah seperti ini, sebuah ponsel baru pernah ditemukan di lemarinya menurut penuturan teman serumahnya. Ditambah pengakuan teman sekelasnya yang harus mengganti rugi duit sumbangan yang tetiba menghilang ketika ditangannya. Sangat disayangkan gadis muda dengan perawakan yang begitu menarik ini memiliki sifat yang kurang baik. Ternyata wajah itu memang bukanlah jaminan bahwa hati akan seindah dengan rupa yang terlihat. 

Minggu, 23 April 2017

Day 13 of 30DWC

Klepto Cantik Part 1


          Aku berusaha meredam emosi kakak, kekesalannya sudah mencapai batas. Emosinya harus didinginkan terlebih dahulu.
          “Biar aku yang menghadapinya. Kakak di sini saja!” kataku kemudian meninggalkan kakak yang masih marah.
          Kemarahannya bisa dimaklumi, ponselnya telah menghilang dikarenakan ulah anak didik sendiri. Awalnya aku tak ambil pusing ketika kakak heboh kehilangan ponsel, toh itu hanya ponsel jadul dan tak terlalu berharga. Aku pikir dia hanya salah taruh di suatu tempat hingga pada akhirnya beberapa  kejanggalan bermunculan dan diambil kesimpulan bahwa ponsel itu telah dicuri.
          Kemarin sore rumah kami kedatangan anak didik kakakku yang ingin belajar lebih intens. Empat orang dara datang dan menghabiskan sorenya di rumah dengan mengotak-atik rumus matematika. Tak ada yang janggal ketika itu. Diantara keempat orang itu, dua diantaranya adalah keponakan kami.
          “Jadi bukan kamu yang mengambilnya?” aku bertanya sembari menatap mata gadis muda di depanku.
          “Bukan aku Tante, mana mungkin aku sejahat itu. Kalian itu kan tanteku, mana mungkin aku menusuk dari belakang.” Dia mencoba menyakinkan.
          “Oke, aku terima.” Kataku memancing “Namun, jika kamu ketahuan berbohong nanti akan ada konsekuensi yang kamu terima.”
          “Baiklah.” Jawabnya santai.
          Aku mencoba pendekatan lain, aku harus mendapatkan pengakuan.
          “Setiap orang itu pernah melakukan kesalahan, tak ada manusia yang suci. Permintaan maaf dari seseorang yang telah berbuat khilaf itu sangat dihargai dibanding seseorang yang salah namun ngotot dengan kesalahannya,” aku menghela nafas “Tante tidak akan marah jika kamu pelakunya asalkan kamu mengakui dan meminta maaf, kita semua pernah berbuat khilaf.”
          Dia terlihat merenung, matanya menerawang, pandangannya kosong.


Day 12 of 30 DWC

Cerita ini terinspirasi dari kejadian yang baru saja terjadi di kotaku. Sedikit miris dan semoga ALLAH menjaga kita dari akhir hidup yang buruk. 

Malam yang Bisu

Malam kian larut, kendaraan mulai menyepi dan Barly masih menunggu. Sesekali lelaki seperempat abad itu mengecek ponselnya.
“Kemana perempuan itu?” gumam Barly “seharusnya dia sudah sampai sekarang.” Lanjut Barly.
Tak lama kemudian seorang perempuan dengan pakaian mini mendekat. Dengan santai mengisap rokoknya dalam dalam “Sorry, tadi ada sedikit keperluan.”
“Aku pikir kau tak datang, untung saja aku belum menelpon yang lain.” Kata Barly sedikit mendengus.
“Jangan begitu Bang, aku Cuma telat 30 menit.” Kata wanita itu.
“Oke, ayoklah. Aku ada barang baru, tak sabar pengen membuktikannya.” Kata Barly memegang tangan perempuan itu.
Mereka memasuki mobil dan kemudian mengendara beberapa menit dan tibalah di salah satu penginapan murah di pinggir kota. Mereka berjalan menuju resepsionis dan memesan sebuah kamar dan menuju kamar tersebut.
“Kau mandilah dulu!” Kata Barly menyuruh perempuan itu.
“Aku pikir langsung action saja, bukannya kamu sudah tak tahan.” Goda wanita itu.
“Mandi sono, segarkan dirimu, akan kubuat keok dirimu!” kata Barly sembari memperlihatkan sebotol minuman. “Obat kuat paling manjur.” Ia tertawa keras.
Barly membuka minuman itu dan menenggaknya. Sesaat ia terlihat baik-baik saja dan tak lama kemudian ia memegang dadanya. Ia terlihat kesakitan mencoba mengeluarkan suara permintaan tolong namun tak terdengar. Wanita yang sedang mandi tak mendengar apapun. Barly semakin kesakitan dan menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia tak bergerak.
Wanita yang menemaninya keluar dari kamar mandi dengan setengah bugil. Hanya handuk kecil yang menutupi tubuhnya. Ia mendekat ,”aku sudah siap Bang!” katanya kemudian.
Namun apa yang ia lihat, lelaki itu tak bergerak dengan mata melotot. Tubuh bugilnya terlihat kaku, sontak ia kaget. Dengan segera ia berpakaian, mengambil dompet yang terletak di samping tempat tidur dan pergi begitu saja.
Dua hari kemudian kejadian ini menghiasi headline koran. Telah ditemukan sosok lelaki tak berbaju meninggal di penginapan di luar kota. Kenikmatan yang dinantikan berakhir dengan akhir yang tragis, menghadap Tuhan dalam keadaan bermaksiat.

Jumat, 21 April 2017

Day 11 of 30DWC




Harapan

Akhirnya kisahmu menemukan ujung bahagia, ketika dua hati yang saling mencintai akhirnya bersatu dalam restu Illahi, seiring doa yang melangit semoga saja tetap terjaga selamanya dan berakhir dengan indah kelak dalam jannahNya.
Aku bahagia untukmu dengan segenap jiwa, aku terharu pada akhirnya kamu menemui takdirmu, separuh agama telah terpenuhi dan menjadi tugas kalian untuk menjaga separuh lainnya.
Keputusan yang begitu cepat dan aku tahu seminggu sebelum hari bahagiamu. Cukup kaget dengan keputusan yang kamu ambil, keberanian yang patut dicontoh untuk orang dewasa sepertiku yang masih saja gamang dan bertingkah kekanakan dan  sedikit kecewa karena tak melibatkanku dalam proses menjelang acara sakralmu.
Aku mungkin menjadi saudari yang begitu protektif terhadapmu, begitu banyak bicara. Aku lakukan itu untuk menjagamu dari hal buruk, setidaknya menurut sepengetahuanku. Kau tahu aku menyayangimu layaknya adik yang tak pernah kumiliki, tak ingin melihatmu terjatuh.

Dan kamu telah menentukan pilihan, semoga ini yang terbaik untukmu. Kebahagiaan yang kau idamkan akan kau rasakan dan memenuhi rongga hati dan bersama dalam keseharianmu kelak. Maaf untuk semua khilaf, tingkah laku dan ucapan yang melukai hati. Selamat menempuh hidup baru, semoga Allah selalu memberkahi dan meridhoi keluarga kalian. 

Kamis, 20 April 2017

Day 10 of 30 DWC

The Last Good Bye (Part Two)

Ternyata menjadi putri dari keluarga terpandang bukanlah hal yang mudah. Begitu banyak aturan yang harus diikuti. Tidak boleh berteman dengan sembarang orang dan harus menjaga tingkah laku layaknya putri kerajaan yang begitu anggun nan lembut. Untuk apa semua itu jika pada akhirnya hanyalah pencitraan semata. Demi sebuah gengsi keluarga ningrat yang sempurna, yang tak memiliki cela sedikitpun.
Namun penderitaan itu akhirnya berkurang setelah aku menamatkan SMA. Meski aku harus masuk dalam jurusan yang sama sekali tidak kuminati, setidaknya bisa lebih bebas di kota ini, tak lagi berada dalam kungkungan mereka. Melanjutkan cerita sukses keluarga yang berhasil masuk dalam universitas ternama dengan jurusan yang begitu bergengsi adalah titah utama dari Papa, aku tak bisa menolak.
Dan disinilah aku sekarang di ibukota dengan segala keriuhannya. Tempat ini terasa begitu asing bagiku layaknya anak ayam yang baru saja menetas. Aku linglung dan bingung. Meski kedua orang tua memastikan semua kebutuhan terpenuhi namun tetap saja kekhawatiran datang menyergap. Entah bagaimanakah aku akan menghadapi ini semua?
Namaku Winda, anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertama saat ini menetap di Amerika mengikuti suaminya yang bekerja di sana. Kakak kedua adalah seniman yang sibuk wara-wiri keliling indonesia, dia pembangkang paling utama di keluarga kami. Dan aku hanya anak manja, penakut dan kuper yang menjadi tumbal akan keinginan kedua orangtua. Aku harus bisa membanggakan mereka, kata itu setiap hari menghiasi telingaku.
(bersambung)

Rabu, 19 April 2017

Day 9 of 30 DWC

The Last Good Bye

Ternyata rasa yang kupikir telah berakhir itu masih ada. Aku kembali bermimpi, mimpi yang indah dan menghanyutkan. Angan kembali membawaku ke masa-masa indah saat kita melalui waktu bersama. Mimpi-mimpi yang terkubur kembali menyeruak, aku kembali membangun istana dalam hati dan kaulah yang bertahta di sana.
“Apa kabar?” tanyamu  menjabat tanganku “lama tak berjumpa.”
“Baik.” Jawanku lirih.
“Kamu tak berubah Wi.” Katamu kemudian.
“Inilah aku dengan segala kelebihan dan kekurangan.”
Dan tanpa sadar pembicaraan kita terus berlanjut, entah sudah sekian menit berlalu dan aku  menikmati setiap detiknya. Menatap wajah oval dan memanjakan teling dengan suara baritonmu yang khas, sungguh aku sangat menikmatinya. Buncahan rinduku, pelan-pelan terobati.
“Wi, hentikan kegilaanmu sekarang juga!” kata Rana sahabatku, nada suaranya meninggi.
“Apa kamu lupa dengan luka yang ia torehkan?” lanjutnya kemudian.
“Tapi dia kembali Na,” aku mencoba meyakinkan “Dia berjanji kali ini akan bertahan di sisiku.”
“Dan kamu masih saja percaya dengan kebohongannya,” wajah Rana memerah “kemana dia selama ini, meninggalkanmu dengan luka menganga karenanya, tanpa kata apapun dan sekarang kau membuka hati untuknya lagi?”
“Dia belum dewasa ketika itu Na, dia mengakui semua kesalahan dan ingin memperbaikinya.”
“Dan perjuanganmu selama ini sia-sia? Setelah kamu bangkit dan kembali terjerat dalam keadaan yang sama?” kali ini mata Rana memerah,butiran cair pun menggelinding, “aku yang ada di sampingmu Wi, aku yang melihat perjuanganmu, aku yang menemanimu dan aku tahu perasaanmu.” Rana berhenti dan kemudian memegang tanganku.
“Jauhi dia, jangan biarkan dirimu terjebak lagi. Cukup sekali dia menyakitimu Wi. Lepaskan dia, jangan terbujuk rayunya. Aku akan menemanimu sampai kau bertemu dengan yang terbaik.” Kata Rana  kemudian memelukku.
Rana, sahabat dan saudari terbaikku. Dia tahu bagaimana perjuanganku untuk kembali hidup layaknya manusia. Setelah terpuruk oleh kesalahan yang begitu fatal, jatuh cinta dengan begitu butanya dan terperdaya hingga akhirnya melanggar norma dan aturan agama. Akibatnya cinta buta itu menghasilkan malu yang tak terperi, hamil di luar nikah dan tak ada yang bertanggung jawab. Bahkan keluarga pun mengusirku dikarenakan malu yang luar biasa. Hanya Rana yang menemaniku, memberikan dukungan dan doa yang tiada putus. Menyemangatiku untuk tetap hidup dan melewati semua ini. Hingga akhirnya tahun berlalu dan aku pun bisa mengangkat muka, berjalan dalam kerumunan.
Bayi kecilku meninggal, sesaat setelah ia lahir di dunia. Tak sempat mengenal wajahku dan juga wajah si penyebar benih. Derita demi derita pun kulalui dan berhasil dan tentu saja Rana tak akan senang jika aku kembali pada pemuda itu, pemuda yang telah menghancurkan diriku di masa lalu. Aku harus berpikir, tak boleh kalah oleh nafsu sesaat. Saatnya mengakhiri kisah ini, tak ada lagi serial selanjutnya. Tutup dan membakarnya hingga menjadi abu dan diterbangkan angin hingga tak satupun yang tersisa. “Selamat tinggal!” ucapku berbisik.