Selasa, 09 Mei 2017

Day 27 of 30 DWC

Aku, Rasa dan Tulisan

Rasanya tak sanggup menguasai diri, kemarahan tengah menguasai, hanya ingin meledak dan menunjukkan amarahku. Hasil pekerjaanku selama lima bulan terakhir menghilang dengan sekejap dikarenakan ulah manusia egois yang satu itu. Namun yang terjadi kemudian hanyalah air mata yang turun membasahi pipi, si introvert belum mampu mengekspresikan perasaannya, mengalah dan terdiam hanya itu yang bisa kulakukan.
“Kenapa Beb?” Shinta, sahabat sekaligus rekan kerja mempertanyakan air mata yang menggenang di pipi.
“Aku lagi badmood. Dataku hancur Shint.” Kataku dengan dada sesak mencoba meredam emosi yang tengah menguasai, “aku sedang mencut data dari leppy ketika Fitra mengambilnya dan terpaksa harus di cancel di tengah proses. Baru 32% ketika dia harus membawa leppynya ke ruangan bawah.”
“Kenapa gak sekalian dibawa aja sama hard disknya? Kan bisa?” Shinta menimpali.
“Mereka mana mau repot begitu. Bawa hard disk kemana-mana. Pasrah aku.” Kataku dengan mata yang masih berkaca-kaca, “ mudah-mudahan masih ada yang bisa diselamatkan.”
“Kenapa nggak nunggu aja? Kan Cuma sebentar.”
“Biasa Ibu Ratu sudah menitahkan.” Kataku kesel.
Aku menyebutnya Ibu Ratu dikarenakan sikapnya yang terlalu dominan dan cenderung menguasai. Tipikal pembully paling kencang di kantor dan seperti biasa aku akan menjadi korban dari mulut yang tak dijaga itu. Kadang sakit terasa dihati namun masih harus menyunggingkan senyum dan pada akhirnya ketika tak mampu menahan maka akan menangis ketika telah di kamar tidur.
Yang aku takutkan ketika semua rasa sakit itu terus menumpuk dan akhirnya butuh pelampiasan. Mulut akan menjadi sulit untuk di kontrol dan akan mengeluarkan kata yang tak kalah busuknya. Salah satu pelampiasan yang bisa dilakukan adalah dengan menulis, mengekspresikan perasaan lewat bahasa tulisan, meski rasanya seperti sedang menulis naskah gossip dikarenakan membicarakan kekurangan orang lain.
Well, mulut adalah bagian paling krusial, pembunuh yang tak terlihat. Karena itulah kenapa Diam itu adalah emas, karena begitu sulit untuk mengendalikannya. Semoga saja kita termasuk golongan orang tak suka menyakiti orang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar