Sebuah karya yang konon katanya pernah menampakkan diri di koran daerahku.
DIAM-DIAM AKU MENCINTA
Aku berdiri di balik rerimbun pohon, diam dan damai dalam
kesendirian. Menatap seksama wajah kukuh itu, dari ujung kaki hingga ujung
rambutnya, menikmati sejenak pemandangan indah di hadapanku. Mata sipit yang
dipadukan dengan hidung mancung sempurna, alis tebal dengan rambut hitam
berkilauan. Aku selalu memimpikan dapat memegang wajah itu, menggenggam
tangannya atau mungkin bersandar di bahunya.
“Syifaa!” Rene sahabatku menepuk
punggungku. Sontak membuatku kaget.
“Duh Rene, bisa nggak sih kamu tidak
mengagetkanku.” Kataku dengan mulut yang dimanyunkan.
“Maaf Neng, lagian serius amat sih.”
Rene duduk di sampingku “emang ngeliatin apaan?”
“Ini lagi belajar, besok kan kita
tes.” Ucapku berbohong.
“Kok aku gak percaya yah. Sepertinya
ada bias-bias kebohongan dalam perkataanmu. Nada suaramu bergetar, menandakan
mulut dan hatimu berbeda.” Kata Rene sok tahu.
“Sokta deh kamu.” Kataku gemes
menjawil pipi temben Rene.
Mata detektif Rene mulai melancarkan
aksinya, dalam sekejap dia telah menyisir halaman kampus yang tak seberapa
luasnya. Hidungnya kembang kempis dan matanya berbinar.
“Aku tahu kamu lagi ngapain di sini?
Lagi ngintipin seseorang kan? Ngaku!” Tanya Rene penuh antusias.
Aku tak bersuara, hanya senyum
dikulum yang menjawab pertanyaan Rene.
“Rio lagi kan?” Rene menatapku
lekat, aku mengangguk pelan.
“Dia sudah punya pacar, Belinda anak
ekonomi. Sadar Syifa!”
“Aku tahu kok,”
“Terus kenapa?”
“Hanya saja dia terlanjur sempurna
di mataku, bukan hanya fisik yang mempesona namun jiwanya juga mengagumkan. Dia
cinta pertamaku.”
“What?” mata Rene membelalak, tak
percaya.
“Benar Re, he is my first love.
Bagiku seperti itu.”
“Maksudnya?”
“Jadi gini, aku sama Rio itu dulu
satu SD. Aku kelas tiga dan dia kelas lima. Waktu itu, ada anak lelaki kelas
enam yang sering membully dan meminta uang jajanku. Karena dulu aku kecil dan
kurus jadi mau tidak mau aku kasih. Karena jengah sudah berulangkali, aku
berusaha melawannya tapi tetap kalah. Nah disaat itulah Rio tiba-tiba muncul dan
membelaku. Meski kami berdua tetap kalah namun sejak saat itu aku merasa
memiliki seseorang yang peduli padaku.”
“Seperti sinetron saja.”
“Iya sih, tapi sayang endingnya tak
berakhir bahagia.”
“Rio masih mengenalimu?”
“Setidaknya dia selalu tersenyum
setiap kali kami bertemu.”
“Itu mah biasa banget kali Neng, Rio
kan memang murah senyum.”
“Aku tahu itu.”
“Terus, kamu mau memperkenalkan
kembali dirimu padanya?”
“Entahlah, mungkin saja dia lupa
padaku. Aku takut hal itu yang akan terjadi, karena itu aku memilih mengawasi
dari jauh saja.”
“Memang lebih baik begitu, kamu sama
Belinda, menangan Belindalah kemana-mana.” Rene jujur.
“Kamu itu teman aku apa bukan sih?
Gak mendukung banget.” Kataku setengah kesal, hatiku perih mendengarkan penilaian
Rene.
“Lebih baik begitu Neng, agar kamu
tetap berada di dunia nyata. Jangan terbawa perasaan yang akan membuatmu
tenggelam dalam dunia mimpi. Sadar Syifa, kau hanya akan jadi pengagumnya, sama
seperti puluhan perempuan lain. ”
“Terima kasih sudah mengingatkan.”
Kataku masih dengan perasaan dongkol.
Aku menatap kembali wajah di
seberang sana, dia tersenyum, bahagia, sementara tangannya menggenggam tangan
wanita lain. Sakit? Sudah pasti, namun aku harus bisa menahannya. Kelak rasa
sakit itu akan mendewasakanku.
Rene benar, adakalanya kita harus
merasakan sakit untuk mengembalikan kita ke tempat seharusnya. Aku mengagumi
Rio bahkan mencintainya dari dulu, namun aku tak punya banyak keberanian untuk
mengungkapkannya. Aku takut karena level kami yang berbeda, dia dengan pesona
yang menggiurkan sedang aku dalam kesahajaanku.
Karena itu aku memilih mundur dari
pertarungan, karena ini bukanlah perangku. Setidaknya dengan menjadi pengagum,
aku bahagia meski harus melihat ia merangkul wanita lain. Seperti inilah
menjadi pecinta, pecinta dalam diam, yang hanya bisa menatap dari jauh tanpa
bisa menyentuh raga dan kedalaman hatinya.