Senin, 07 September 2015

Muhasabah

Andai aku dimakamkan hari ini
Entah bagaimana akan kujawab pertanyaan para malaikat.
Palu dan godam mereka pasti telah meremukkan tubuhku.
Lagi dan lagi.
Andai ajalku tiba hari ini.
Entah amalan apa yang akan kubawa.
Tak ada yang dapat kubanggakan.
Tak berbekal, tak bermodal.
Andai waktuku telah habis hari ini.
Entah bagaimana aku menghadap Tuhan.
Dengan wajah hitam dan dosa yang menggunung.
Padahal aku mengaku mencintainya.
Andai aku dimakamkan hari ini.
Aku akan menjadi orang yang sangat merugi.

                                        


Senin, 08 Juni 2015

Yogya dan Renja





Kenangan di kota Gudeg.

Untuk kedua kalinya aku kembali ke kota ini. Kota yang begitu menarik perhatian, kota yang begitu ramai dengan wisatawan, berseni dan sedikit mistis. Setidaknya itu penilaianku.

Dengan segala kesunyian yang kubawa dari Kalimantan, aku menjejaki kota ini. Mencoba menikmati segala rasa yang tercipta. Takjub, bahagia dan Wob berpadu menjadi satu.

Dari cerita yang mampir di telinga, konon di kota ini semua serba murah. Dengan uang Rp10.000,- kita bisa duduk berleha-leha menikmati sajian yang menggunung. Itu katanya!
Namun Fact berbicara lain, sajian makanan di sepanjang Malioboro itu Muahal.
Bahkan jauh lebih mahal dibanding harga di Kalimantan.  Sedikit kecewa dengan kejadian ini namun kita tetap harus menikmati perjalanan bukan???

Hal lain yang menyita perhatianku adalah sebuah tempat perbelanjaan di seputaran pasar beringharjo. Aroma kemenyan menusuk hidung ketika melangkahkan kaki ke sana. Sesajen dengan dupa berada di depan sebuah kereta. Entah apa namanya, mungkin dulu pernah menjadi kendaraan orang-orang dikeramatkan. Alunan lagu berbahasa jawa menambah mistis tempat itu. Mungkin saat itu setan-setan ikut meramaikan tempat itu, tertawa melihat ulah manusia yang terlalu berani menentang Tuhan.

Dan juga pertunjukan jalanan yang penuh dengan seni. Alunan alat musik tradisional (entah apa namanya) mendendangkan nada-nada lagu modern. Menghibur dan berkelas. Mereka berhak mendapatkan penghargaan. Keren deh pokoknya.

Juga terdapat cerita tentang pengemis yang banyak berseliweran. Mencoba menggugah perasaan manusia dengan segala ketidakmampuannya. Padahal masih termasuk produktif namun memilih cara penghidupan yang tidak diberkahi. Hmmmm, miris.

Seniman lain adalah para penjajah suara. Bermodalkan gitar dan suara mereka bisa meraup rupiah dalam hitungan menit. Setidaknya mereka telah berusaha. But anyway, artis jalanan kemarin yang kutemui memiliki suara yang seksi, serak namun menggoda. Terima kasih Pak sudah mendendangkan lagu Jawa sesuai permintaan, meski kuakui aku tak mengerti.

I think thats all. Ngantuk mulai menyerang. Lebih baik kuakhiri sebelum deretan huruf aneh tak terbaca hadir di depan kalian.

Senin, 27 April 2015

Jilbab Miss Cybo

Sebuah karya yang pernah kuposting di KBM (komunitas Bisa Menulis) dan mendapat respon yang cukup positif, terinspirasi dari rambut sebagian besar keluarga besarku tapi ini cuma fiksi, dan hanya terjadi dalam imajinasiku.


Jilbab Miss Cybo

Begini nasib jadi manusia beken, selalu jadi bahan pembicaraan orang-orang yang tak punya kesibukan. Setiap hari mereka selalu memandangiku dengan tatapan mata tak berdosa ataupun dengan tatapan menghakimi. Aku hanya bisa mengelus dada berharap penderitaanku ini akan segera berakhir. Memang tak mudah menjadi manusia populer.

“Ma, pokoknya besok aku mau rebonding.” kataku penuh ketegasan pada mama yang sedang asyik berjibaku dengan rumput-rumput nakal di kebun. 


Mamaku yang besar di kampung tidak mengerti kata-kata itu, ia hanya bisa melongo.
“Kamu mau ngapain Nak?” tanyanya penasaran.


“Rebonding Ma, itu yang lurusin rambut.” kataku menjelaskan

“Oalah!” kata mama datar.


“Bolehkan Ma?” tanyaku penuh harap


Aku memasang aksi, muka memelas dengan mata yang berkedip-kedip bukan karena cacingan hanya mencoba memaksimalkan tampan yang kumiliki, berharap mama akan merestui keinginanku dan tak lupa rapalan doa yang tiada henti dalam hati.


“Yakin kamu mau ribunding?”


“Rebonding Ma bukan ribunding. Biarpun nanti kepalaku sakit, atau kulit kelapa mengelupas tapi tidak apa-apa yang penting benda ini harus bisa dihilangkan." kataku sembari menunjuk rambut kribo superku.


“Ya sudah terserah kamu, mama hanya bisa bilang kalau kita itu harus mensyukuri setiap ciptaan TUHAN Nak.”


Akhirnya mama luluh juga (yessss!!!!), senyum termanis mengembang di bibirku. Aku yakin madupun kalah manis dengan senyumku ini. Besok aku akan ke kota untuk menghilangkan semua jejak rambut kriboku yang selama 16 tahun bertahta dengan angkuhnya di kepalaku. Yang mampu menghadirkan jejak-jejak sakit hati di dalam dada ketika harus mendengar cibiran panas dari orang-orang. 


Berbekal uang tabunganku selama setahun, aku melangkah penuh gairah menuju Salon Bella, Salon yang terkenal di kotaku. Salon yang penghuninya eyke-eyke semua dengan jari kelingking yang selalu berdiri. Betul-betul kemayu! (entah kenapa yang seperti ini banyak tumbuh subur)


“Pagi!” seruku dengan penuh semangat.


“Pegong Nek, ada yang bisa eyke bantu?” Mas salon menyapa besaha ramah.


“Aku mau rebonding Mas.” kataku dengan penuh keyakinan.


“Jangan panggil Mas dong, nggak lihat udah centong-centong begini. Panggil mbak aja yah Nek.” pintanya sembari membetulkan make up tebalnya.


“Oke deh Mbak.” kataku mencoba mencairkan suasana, lebih baik mengalah daripada tidak mendapat service yang memuaskan.


“Coba eyke lihat dulu,,, Tolong topinya dibuka!” pinta Mbak Eyke.
Aku membuka topi dan mencoba merapikan rambutku dan tiba-tiba…


“Astaga, ini Rambut apa sarang tawon sih?” Kata Mbak Eyke kaget.


“Ya rambutlah Mas, eh Mbak.” kataku mencoba meyakinkan.


“Ya ampun, sudah bertahun-tahun eyke kerja di salon baru kali ini nemuin yang kayak beginian.” katanya mencoba menghindar.


“Itu artinya selama karier Mbak belum pernah menemukan tantangan yang berarti, anggap aja rambutku ini batu loncatan Mbak untuk karir yang lebih melesat kedepannya.” kataku mencoba merayu.


“Eyke piker-pikir dulu deh.” katanya bingung.


“Jangan khawatir Mbak, berapapun harganya akan aku bayar asalkan rambut ini segera berubah.” rayuku dengan kekuatan maksimal.


“Eh jangan salah, ini bukan tentang uang Nek, eyke nggak yakin hasilnya akan memuaskan. Rambut You itu langka sekali.”


“Tolonglah Mbak, Please help me, hanya Mbak yang bisa menolongku!” kataku memelas sambil mengedipkan mata.


“Baiklah jika you memaksa, tapi ingat eyke nggak janji hasilnya sempurna.” katanya mengalah.


“Oke deh Mbak yang cantik.”


Mbak salon menyuruhku duduk dan bersiap-siap mencuci rambutku. Aku menikmatinya dengan hati yang berbunga-bunga. Diapun menaruh semacam cream rambut di kepalaku dan mendiamkannya kurang lebih sejam. Biar meresap begitu kata Mbak Salon. Aku cuek-cuek saja meski baunya menusuk hidung. Aku harus bertahan demi kemerdekaanku dari rambut kribo ini. 


Sejam berlalu, rambutku kembali dicuci dan dikeringkan. Dan inilah saat yang paling menentukan, dengan bermodalkan beberapa catokan dan sebuah sisir mulailah Mbak Salon beraksi. Rambutku ditarik ke atas, ke bawah, ke kanan, ke kiri rasanya sakit bukan kepalang. Ditambah jika tepi catokan mengenai kulit kepala rasanya perih bukan main. Huffftssss susah digambarkan, intinya sakit membahana badai.


Setelah hampir seharian bergelut dengan panas dan rasa sakit akhirnya selesai juga. Aku menatap rambutku di cermin dan Masya Allah sudah kempis. Dari yang tadi megar menutupi kepala sekarang sudah tersusun rapi. Aku merasa sangat puas dengan hasilnya, buru-buru aku mengambil hape dan mengambil gambar diri dan membagikan kebahagian yang saat ini kurasakan di wall facebookku tak lupa kutulis “selamat tinggal Kribo”.
Aku segera membayarnya dan bergegas pulang karena sudah hampir maghrib. Akupun mendengarkan setiap petuah Mbak Salon dengan seksama, kucatat dalam memori setiap pantangan yang harus kupatuhi. 


Dua sampai tiga bulan semuanya baik-baik saja. Aku sudah memamerkan pada mereka yang selama ini telah mencemohku. Bahkan mereka mulai menerima kemanisan wajahku yang selama ini tertutup rambut kribo, bahkan diantara teman lelaki sudah ada beberapa yang titip salam padaku meskipun tak kutanggapi. Syukurlah aku tidak lagi menjadi bahan cemohan.


Memasuki bulan ke empat, tanda-tanda bencana sudah mulai bermunculan, rambutku mulai tumbuh, pangkalnya mulai menunjukkan bentuk aslinya dan aku mulai khawatir. Jangan sampai kribo itu balik lagi padaku setelah semua yang aku lalui selama ini.


Aku mulai dihinggapi perasaan kurang PD. Rasa itu kembali bertahta di benakku. Apa yang harus kulakukan, duit tabunganku sudah habis untuk rebonding tiga bulan yang lalu dan dapat dipastikan mama nggak punya budget untuk rebondingku yang kedua. Aku bingung, aku mulai memenjarakan diri di kamar dan berdoa pada TUHAN agar mengirimkan seorang malaikat yang akan memberiku uang yang tak terduga atau berharap ada tas yang berisi penuh dengan uang jatuh di suatu jalan dan aku yang menemukannya. Beginilah jika sudah putus asa, pikiran melanglang buana ke arah mana pun.


“Tok… tok….” suara pintu kamarku diketuk seseorang.


“Siapa?” tanyaku parno.


“Ini aku Cybo, Ananda.”


Wah Ananda datang. Syukurlah!! Hanya dia yang selama ini setia menjadi temanku disaat kribo maupun lurusku. Cewek manis berlesung pipit dan juga teman sebangkuku yang baru beberapa bulan yang lalu mengenakan jilbab. Aku menuju pintu dan membukakan untuknya. Dia kelihatan lebih cantik hari ini dengan longdress biru dipadukan dengan jilbab panjang menutupi dada dengan warna senada. Sejuk dipandang mata.


“Masuk Nan!” kataku gontai.


“Iyya,” jawabnya dan kemudian duduk di sampingku dan kemudian memelukku “gak usah sedih gitu dong.” katanya mencoba menghibur.


“Gimana aku nggak sedih Nan, lihat nih rambutku!” kataku memperlihatkan rambut yang mulai mekar.


“Ah gak papa kok, itu mah biasa.”


“Biasa gimana Nan? Bisa dipastikan aku akan menjadi bahan ejekan lagi di sekolah.” kataku sedih.


“kamu nggak usah sedih gitu dong, aku punya solusi buat kamu.” kata Nanda.


“Solusi? Serius? Apaan?” kataku penasaran.


“Nih” katanya sambil menyodorkan sesuatu padaku.


Aku heran, sebuah kotak yang terbungkus rapi.


“Apaan nih?” tanyaku penasaran dengan dahi mengkerut.


“Buka aja!” katanya dan tersenyum padaku.


Aku akhirnya menerima solusi dari Nanda, tak ada yang salah dengan solusi yang dia berikan padaku. Lagipula hal itukan sudah menjadi kewajiban setiap wanita yang mengaku beragama islam. Dan setelah kupikir-pikir, hal itu adalah jalan terbaik, aku tak perlu lagi sibuk mengurusi hal-hal yang tidak penting. Tinggal fokus memperbaiki hati dan niatku yang sepertinya juga membutuhkan rebonding agar kembali ke jalan yang lurus.


  -------------------------------------------------------------

Kini aku tak perlu lagi mendengar cemohan dari teman-temanku. Tak ada lagi yang mengganggu pikiranku dan rasanya lega banget. Aku hanya harus serius menghadapi ujian akhir yang tinggal beberapa bulan lagi. Kribo, rambut, bedak dan bla bla semuanya telah kutinggalkan. 

Hari ini aku dan Ananda bergandengan tangan memasuki sekolah. Rasanya sangat bahagia memiliki seorang sahabat yang begitu menyayangi kita. 


“Assalamu alaikum Jilbaber!” sapa temanku.


“Waalaikum salam Warahmatullahi wabarakatuh.” jawab kami bersamaan.


“Terima kasih Ananda atas hadiah hijabmu, meski pada awalnya hanya untuk menutupi kriboku tapi pada akhirnya aku benar-benar telah jatuh hati padanya, Uhibbuki Fillah ukhti.” kataku memandang wajah sahabatku.


“Gak usah dibahas, itu hadiah dari ALLAH untukmu.” kata Ananda


Ananda dan aku tersenyum dan melangkah dengan penuh semangat memasuki gerbang ilmu itu, dan hatipun damai merasakan cinta tulus dan murni dari saudari muslimku. Cinta karena ALLAH
 

Rabu, 22 April 2015

Uang Pannaik

Adat istiadat kampungku yang mulai menggila menjadi inspirasi ketika jemariku beraksi. Karya kecilku yang semoga saja bisa menjadi awal karya besarku nantinya.... AAMIIN YA RABBAL ALAMIN

A Story from Buginess

Uang Pannaikku

            Rumah panggung berwarna cokelat itu tampak riuh, orang-orang duduk santai dengan dandanan rapi. Esse, putri sang pemilik rumah nampak sumringah, matanya berbinar penuh kebahagiaan, tak lupa senyum selalu menghiasi wajah manisnya.
            “Esse, coba tanya Nak Sahar sudah di manakah mereka?” Pak Andi, tokoh masyarakat sekaligus paman Esse bertanya. Peluh menetes di dahinya, cuaca memang cukup panas hari itu.
            “Sebentar Fung, saya telepon dulu.” Jawab Esse kemudian memencet tombol hape yang sedari tadi dipegangnya.
            “Sudah di jalan Fung, Insya Allah 10 menit lagi sampai.” Kata Esse kemudian. Ia segera memberitahukan keluarganya yang lain. Mereka harus bersiap-siap.
            Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti sempurna di depan rumah itu.Tiga orang lelaki memakai jas hitam, lipa sabbe dan songkok tobone sedang tiga perempuan memakai baju renda dipadukan  jilbab dengan warna senada. 
            Pak Andi menyambut mereka dengan penuh antusias, meski tak ada lagi galigo yang biasanya menjadi pembuka acara. Mereka naik satu persatu dan dipersilahkan duduk. Setelah berbasa-basi selama beberapa menit, mereka pun memulai acara madduta.
            “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Kata Daeng Manessa yang dijawab oleh mereka yang hadir dalam rumah panggung itu.
“Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih atas penyambutan yang luar biasa ini. Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Daeng Manessa dan saya ditunjuk sebagai juru bicara mewakili keluarga Pak Ambo Gau yang bermaksud untuk melamar ananda Esse untuk keponakan kami ananda Saharuddin.” kata Daeng Manessa lugas.
            “Terima kasih kembali kami haturkan. Mengenai niat baik dari keluarga, kami telah bermusyawarah dan memutuskan menerima lamaran dari keluarga Bapak Ambo Gau.” Kata Pak Andi.
            Esse, Sang calon pengantin wanita berdiam diri di kamar berdoa dengan khusyu.
*****
            “Bagaimana ini Esse, apa yang harus aku lakukan, kenapa sebanyak itu yang mereka pinta?” suara Saharuddin bergetar dari balik telepon.
            “Maafkan aku Kak.” Esse terisak.
            “Kamu tahu Ibu sedang marah sekarang. Bahkan memintaku untuk mencari wanita lain. Kita kan sudah sepakat mengenai hal itu, tidak bisakah kau memberitahu keluargamu?”
            “Aku sudah mencobanya Kak, bahkan bagiku, Kakak datang meski hanya dengan seperangkat alat sholatpun akan kuterima. Ini tradisi keluarga yang tak dapat kutolak.”
            “Jadi bagaimana sekarang?” Saharuddin gusar. “Ibu ingin bicara denganmu.”        
            “Iya Kak.” Esse menahan nafas, wajahnya kian memerah.
            “Nak Esse, bukannya aku tak menyukaimu, tapi apa yang diminta keluargamu tak dapat kami penuhi. Jika kamu memang mencintai anakku, mintalah keluargamu untuk mengerti. Tiga puluh juta dan satu set perhiasan emas terlau berat buat keluarga kami.” Tegas Bu Sitti.
            “Saya akan coba Bu. Mudah-mudahan keluarga besarku mau mengerti.” Kata Esse dengan nada tertahan, suaranya kian bergetar. Dia linglung, ia mencintai Saharuddin sepenuh hati namun keluarganya juga tak mau mundur dari keputusaannya. Dia tak ingin kehilangan Saharuddin namun tak jua ingin memberikan aib bagi keluarga besarnya. Pernikahan yang ia dambakan mungkinkah akan terwujud?
            “Ingat Esse, kita ini keluarga terhormat. Saharuddin seharusnya sudah tahu itu. Jika dia memang mencintaimu maka dia akan mengikuti keputusan kami ini.” Kata Pak Andi sang paman terngiang-ngiang di telinganya.
****
            “Selamat yah Esse, semoga berkah pernikahannya.” Teman-teman Esse satu persatu menyalaminya.
            “Terima kasih.” Jawab Esse.
            Esse akhirnya kembali tersenyum setelah melewati badai cobaan. Keluarga besarnya pun bangga berhasil mempertahankan siri’nya. Esse menikah dengan uang pannaik yang begitu besar. Mereka tak tahu bahwa buku tabungan Esse telah kosong. Dia harus menambahkan agar pesta hari itu tetap tejadi.
           

Adat istiadat kampungku yang mulai menggila menjadi inspirasi ketika jemariku beraksi. Karya kecilku yang semoga saja bisa menjadi awal karya besarku nantinya.... AAMIIN YA RABBAL ALAMIN

A Story from Buginess

Uang Pannaikku

            Rumah panggung berwarna cokelat itu tampak riuh, orang-orang duduk santai dengan dandanan rapi. Esse, putri sang pemilik rumah nampak sumringah, matanya berbinar penuh kebahagiaan, tak lupa senyum selalu menghiasi wajah manisnya.
            “Esse, coba tanya Nak Sahar sudah di manakah mereka?” Pak Andi, tokoh masyarakat sekaligus paman Esse bertanya. Peluh menetes di dahinya, cuaca memang cukup panas hari itu.
            “Sebentar Fung, saya telepon dulu.” Jawab Esse kemudian memencet tombol hape yang sedari tadi dipegangnya.
            “Sudah di jalan Fung, Insya Allah 10 menit lagi sampai.” Kata Esse kemudian. Ia segera memberitahukan keluarganya yang lain. Mereka harus bersiap-siap.
            Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti sempurna di depan rumah itu.Tiga orang lelaki memakai jas hitam, lipa sabbe dan songkok tobone sedang tiga perempuan memakai baju renda dipadukan  jilbab dengan warna senada. 
            Pak Andi menyambut mereka dengan penuh antusias, meski tak ada lagi galigo yang biasanya menjadi pembuka acara. Mereka naik satu persatu dan dipersilahkan duduk. Setelah berbasa-basi selama beberapa menit, mereka pun memulai acara madduta.
            “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Kata Daeng Manessa yang dijawab oleh mereka yang hadir dalam rumah panggung itu.
“Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih atas penyambutan yang luar biasa ini. Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Daeng Manessa dan saya ditunjuk sebagai juru bicara mewakili keluarga Pak Ambo Gau yang bermaksud untuk melamar ananda Esse untuk keponakan kami ananda Saharuddin.” kata Daeng Manessa lugas.
            “Terima kasih kembali kami haturkan. Mengenai niat baik dari keluarga, kami telah bermusyawarah dan memutuskan menerima lamaran dari keluarga Bapak Ambo Gau.” Kata Pak Andi.
            Esse, Sang calon pengantin wanita berdiam diri di kamar berdoa dengan khusyu.
*****
            “Bagaimana ini Esse, apa yang harus aku lakukan, kenapa sebanyak itu yang mereka pinta?” suara Saharuddin bergetar dari balik telepon.
            “Maafkan aku Kak.” Esse terisak.
            “Kamu tahu Ibu sedang marah sekarang. Bahkan memintaku untuk mencari wanita lain. Kita kan sudah sepakat mengenai hal itu, tidak bisakah kau memberitahu keluargamu?”
            “Aku sudah mencobanya Kak, bahkan bagiku, Kakak datang meski hanya dengan seperangkat alat sholatpun akan kuterima. Ini tradisi keluarga yang tak dapat kutolak.”
            “Jadi bagaimana sekarang?” Saharuddin gusar. “Ibu ingin bicara denganmu.”        
            “Iya Kak.” Esse menahan nafas, wajahnya kian memerah.
            “Nak Esse, bukannya aku tak menyukaimu, tapi apa yang diminta keluargamu tak dapat kami penuhi. Jika kamu memang mencintai anakku, mintalah keluargamu untuk mengerti. Tiga puluh juta dan satu set perhiasan emas terlau berat buat keluarga kami.” Tegas Bu Sitti.
            “Saya akan coba Bu. Mudah-mudahan keluarga besarku mau mengerti.” Kata Esse dengan nada tertahan, suaranya kian bergetar. Dia linglung, ia mencintai Saharuddin sepenuh hati namun keluarganya juga tak mau mundur dari keputusaannya. Dia tak ingin kehilangan Saharuddin namun tak jua ingin memberikan aib bagi keluarga besarnya. Pernikahan yang ia dambakan mungkinkah akan terwujud?
            “Ingat Esse, kita ini keluarga terhormat. Saharuddin seharusnya sudah tahu itu. Jika dia memang mencintaimu maka dia akan mengikuti keputusan kami ini.” Kata Pak Andi sang paman terngiang-ngiang di telinganya.
****
            “Selamat yah Esse, semoga berkah pernikahannya.” Teman-teman Esse satu persatu menyalaminya.
            “Terima kasih.” Jawab Esse.
            Esse akhirnya kembali tersenyum setelah melewati badai cobaan. Keluarga besarnya pun bangga berhasil mempertahankan siri’nya. Esse menikah dengan uang pannaik yang begitu besar. Mereka tak tahu bahwa buku tabungan Esse telah kosong. Dia harus menambahkan agar pesta hari itu tetap tejadi.
           

Mendamba dalam diam

Sebuah karya yang konon katanya pernah menampakkan diri di koran daerahku. 

DIAM-DIAM AKU MENCINTA
Aku berdiri di balik rerimbun pohon, diam dan damai dalam kesendirian. Menatap seksama wajah kukuh itu, dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, menikmati sejenak pemandangan indah di hadapanku. Mata sipit yang dipadukan dengan hidung mancung sempurna, alis tebal dengan rambut hitam berkilauan. Aku selalu memimpikan dapat memegang wajah itu, menggenggam tangannya atau mungkin bersandar di bahunya.
            “Syifaa!” Rene sahabatku menepuk punggungku. Sontak membuatku kaget.
            “Duh Rene, bisa nggak sih kamu tidak mengagetkanku.” Kataku dengan mulut yang dimanyunkan.
            “Maaf Neng, lagian serius amat sih.” Rene duduk di sampingku “emang ngeliatin apaan?”
            “Ini lagi belajar, besok kan kita tes.” Ucapku berbohong.
            “Kok aku gak percaya yah. Sepertinya ada bias-bias kebohongan dalam perkataanmu. Nada suaramu bergetar, menandakan mulut dan hatimu berbeda.” Kata Rene sok tahu.
            “Sokta deh kamu.” Kataku gemes menjawil pipi temben Rene.
            Mata detektif Rene mulai melancarkan aksinya, dalam sekejap dia telah menyisir halaman kampus yang tak seberapa luasnya. Hidungnya kembang kempis dan matanya berbinar.
            “Aku tahu kamu lagi ngapain di sini? Lagi ngintipin seseorang kan? Ngaku!” Tanya Rene penuh antusias.
            Aku tak bersuara, hanya senyum dikulum yang menjawab pertanyaan Rene.
            “Rio lagi kan?” Rene menatapku lekat, aku mengangguk pelan.
            “Dia sudah punya pacar, Belinda anak ekonomi. Sadar Syifa!”
            “Aku tahu kok,”
            “Terus kenapa?”
            “Hanya saja dia terlanjur sempurna di mataku, bukan hanya fisik yang mempesona namun jiwanya juga mengagumkan. Dia cinta pertamaku.”
            “What?” mata Rene membelalak, tak percaya.
            “Benar Re, he is my first love. Bagiku seperti itu.”
            “Maksudnya?”
            “Jadi gini, aku sama Rio itu dulu satu SD. Aku kelas tiga dan dia kelas lima. Waktu itu, ada anak lelaki kelas enam yang sering membully dan meminta uang jajanku. Karena dulu aku kecil dan kurus jadi mau tidak mau aku kasih. Karena jengah sudah berulangkali, aku berusaha melawannya tapi tetap kalah. Nah disaat itulah Rio tiba-tiba muncul dan membelaku. Meski kami berdua tetap kalah namun sejak saat itu aku merasa memiliki seseorang yang peduli padaku.”
            “Seperti sinetron saja.”
            “Iya sih, tapi sayang endingnya tak berakhir bahagia.”
            “Rio masih mengenalimu?”
            “Setidaknya dia selalu tersenyum setiap kali kami bertemu.”
            “Itu mah biasa banget kali Neng, Rio kan memang murah senyum.”
            “Aku tahu itu.”
            “Terus, kamu mau memperkenalkan kembali dirimu padanya?”
            “Entahlah, mungkin saja dia lupa padaku. Aku takut hal itu yang akan terjadi, karena itu aku memilih mengawasi dari jauh saja.”
            “Memang lebih baik begitu, kamu sama Belinda, menangan Belindalah kemana-mana.” Rene jujur.
            “Kamu itu teman aku apa bukan sih? Gak mendukung banget.” Kataku setengah kesal, hatiku perih mendengarkan penilaian Rene.
            “Lebih baik begitu Neng, agar kamu tetap berada di dunia nyata. Jangan terbawa perasaan yang akan membuatmu tenggelam dalam dunia mimpi. Sadar Syifa, kau hanya akan jadi pengagumnya, sama seperti puluhan perempuan lain. ”
            “Terima kasih sudah mengingatkan.” Kataku masih dengan perasaan dongkol.
            Aku menatap kembali wajah di seberang sana, dia tersenyum, bahagia, sementara tangannya menggenggam tangan wanita lain. Sakit? Sudah pasti, namun aku harus bisa menahannya. Kelak rasa sakit itu akan mendewasakanku.
            Rene benar, adakalanya kita harus merasakan sakit untuk mengembalikan kita ke tempat seharusnya. Aku mengagumi Rio bahkan mencintainya dari dulu, namun aku tak punya banyak keberanian untuk mengungkapkannya. Aku takut karena level kami yang berbeda, dia dengan pesona yang menggiurkan sedang aku dalam kesahajaanku.
            Karena itu aku memilih mundur dari pertarungan, karena ini bukanlah perangku. Setidaknya dengan menjadi pengagum, aku bahagia meski harus melihat ia merangkul wanita lain. Seperti inilah menjadi pecinta, pecinta dalam diam, yang hanya bisa menatap dari jauh tanpa bisa menyentuh raga dan kedalaman hatinya.