Apakah
aku jatuh cinta?
Aku
terkena batunya, ketula oleh ucapan sendiri dan seperti inilah aku sekarang,
berdebar tak menentu meski hanya memikirkan wajahnya. Tak kupungkiri hanya dia
kini yang bertahta di benak.
“Na!”
lengkingan Windy mengagetkan.
“Windy,
apa-apaan sih kamu, jantungku hampir copot tau!” kataku dengan nada yang
meninggi.
“Lagian
kamu daritadi dipanggil nggak nyahut-nyahut juga. Aku kan jadi sebel!” windy
manyun “mikirin opo sih?”
“Nggak,
lagi ngeblank aja.” Aku menghindar. Belum waktunya aku berbagi cerita.
“Dasar
aneh, jangan suka ngeblank, ntar kesambet tau rasa lo!” Windy kesel spontan menoyor
kepalaku.
“Sakit
tau!” aku marah
“Biarin!
Aku mau ngajakin makan tapi sudah males” kata Windy sembari berlalu
meninggalkan aku sendiri.
Biarlah
dia berlalu, aku harus menenangkan dadaku sendiri, tidak boleh ketahuan
olehnya. Kalo nggak aku bisa menjadi bulan-bulanan dia.
Bukan karena
Sidia tak bisa dibanggakan, hanya saja belum siap dengan hatiku sendiri. Aku masih
gamang dan kebingungan. Bisa saja rasa yang muncul hanya karena keseringan
mendengar namanya disandingkan dengan namaku belakangan ini.
“Udah,
kalian sudah pas satu sama lain!” Mba Gea, teman sekantorku mulai
memanas-manasi.
Aku hanya
bisa tersenyum sementara yang lain mengaminkan dan mulai menyusun cerita yang
belum pasti terjadi. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Tak pernah
kubayangkan akan terlibat dalam kisah yang begitu rumit seperti ini, setidaknya
menghabiskan banyak waktuku untuk memikirkannya.
Aku masih
ingat prinsip yang kupegang teguh, tak akan terjatuh untuk orang yang seperti
dia. Logika menolak dia namun hati tak berpihak padaku, dia menjadi musuh utama
melawan rasa ini.
“Ngaku
saja apa susahnya sih!”
“Kalian
itu sama-sama gengsi, nggak ada yang mau mengaku!”
“Kalau
aku liat, kalian memiliki rasa yang sama.”
“Dia
itu suka sama kamu!”
Ucapan-ucapan
seperti itu yang membuatku melayang dan menjatuhkan hatiku lebih dalam,
ditambah sifatnya yang belakangan ini semakin membaik dimataku. Namun aku belum
mendengarkan apapun dari mulutnya kecuali perkataan yang kuanggap sebagai
lelucon saja atau aku yang kurang peka dengan sikap dan perkataannya selama ini.
Ah, aku
benci jika harus meraba seperti ini, benci jika harus melemah seperti ini. Namun
tak dapat kupungkiri, ada desir rindu yang tumbuh dihati jika tak menjumpainya.
Apakah aku telah jatuh cinta? Entahlah aku masih gamang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar