Selasa, 25 April 2017

Day 15 of 30 DWC

Apakah aku jatuh cinta?

Aku terkena batunya, ketula oleh ucapan sendiri dan seperti inilah aku sekarang, berdebar tak menentu meski hanya memikirkan wajahnya. Tak kupungkiri hanya dia kini yang bertahta di benak.
“Na!” lengkingan Windy mengagetkan.
“Windy, apa-apaan sih kamu, jantungku hampir copot tau!” kataku dengan nada yang meninggi.
“Lagian kamu daritadi dipanggil nggak nyahut-nyahut juga. Aku kan jadi sebel!” windy manyun “mikirin opo sih?”
“Nggak, lagi ngeblank aja.” Aku menghindar. Belum waktunya aku berbagi cerita.
“Dasar aneh, jangan suka ngeblank, ntar kesambet tau rasa lo!” Windy kesel spontan menoyor kepalaku.
“Sakit tau!” aku marah
“Biarin! Aku mau ngajakin makan tapi sudah males” kata Windy sembari berlalu meninggalkan aku sendiri.
Biarlah dia berlalu, aku harus menenangkan dadaku sendiri, tidak boleh ketahuan olehnya. Kalo nggak aku bisa menjadi bulan-bulanan dia.
Bukan karena Sidia tak bisa dibanggakan, hanya saja belum siap dengan hatiku sendiri. Aku masih gamang dan kebingungan. Bisa saja rasa yang muncul hanya karena keseringan mendengar namanya disandingkan dengan namaku belakangan ini.
“Udah, kalian sudah pas satu sama lain!” Mba Gea, teman sekantorku mulai memanas-manasi.
Aku hanya bisa tersenyum sementara yang lain mengaminkan dan mulai menyusun cerita yang belum pasti terjadi. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Tak pernah kubayangkan akan terlibat dalam kisah yang begitu rumit seperti ini, setidaknya menghabiskan banyak waktuku untuk memikirkannya.
Aku masih ingat prinsip yang kupegang teguh, tak akan terjatuh untuk orang yang seperti dia. Logika menolak dia namun hati tak berpihak padaku, dia menjadi musuh utama melawan rasa ini.
“Ngaku saja apa susahnya sih!”
“Kalian itu sama-sama gengsi, nggak ada yang mau mengaku!”
“Kalau aku liat, kalian memiliki rasa yang sama.”
“Dia itu suka sama kamu!”
Ucapan-ucapan seperti itu yang membuatku melayang dan menjatuhkan hatiku lebih dalam, ditambah sifatnya yang belakangan ini semakin membaik dimataku. Namun aku belum mendengarkan apapun dari mulutnya kecuali perkataan yang kuanggap sebagai lelucon saja atau aku yang kurang peka dengan sikap dan perkataannya selama ini.
Ah, aku benci jika harus meraba seperti ini, benci jika harus melemah seperti ini. Namun tak dapat kupungkiri, ada desir rindu yang tumbuh dihati jika tak menjumpainya. Apakah aku telah jatuh cinta? Entahlah aku masih gamang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar