Aku Benci Mama
Part 2
Aku merenungkan perkataan Abduh. Ia benar,
aku seharusnya bersyukur memiliki mama, ia telah merawatku dengan baik meski
harus menjalani pekerjaan yang menjijikkan. Banyak yang berharap bertemu dengan
ibunya namun tak bisa, ia lahir dan besar tanpa seorang ibu di sisinya. Aku memutuskan
pulang kampung sejenak, aku ingin melihat keadaannya.
Dan disinilah aku sekarang, berdiri di
depan sebuah rumah mungil tempatku menghabiskan masa kecil dengan penuh
kegembiraan. Terbayang masa ketika mama sedang mengajariku mengendarai sepeda,
aku jatuh berkali-kali hingga lecet dan mama tetap sabar mengajari. Tuhan, apa
yang telah kulakukan.
Aku bergegas, mengetuk pintu dengan
pelan. Tak lama suara serak terdengar dari dalam mengatakan untuk menunggu, kaki
dan wajahku menegang. Dan pintu pun terbuka, aku menatap sosok yang semakin
mengecil itu.
“Nadia!” suara mama bergetar. Ia memelukku
“kau pulang Nak!”
Aku terpaku, hati perih seperti
teriris sembilu. Wanita yang telah melahirkanku ini semakin tirus.
“Mama
merindukanmu Nak, maafkan mama yang tak bisa menjadi ibu terbaik untukmu dan
membuatmu menanggung malu sepanjang hidup!”
Tangisanku
pecah tak mampu aku menahan lagi, kemarahan dan kebencianku menguap. Aku memeluknya
dengan erat dan ia pun sama. Kami menangis bersama tanpa kata sampai hati
terasa penuh.
Aku
memutuskan tak peduli dengan masa lalu mama, tak harus mendengarkan kicauan
orang sekitar, wanita ini yang telah melahirkan dan membesarkanku. Aku hanya
ingin menghabiskan waktu bersamanya dan tak tahu kenapa hatiku terasa damai. Rupanya
kebahagiaan yang kucari ada di depan mata. Mama memang memiliki masa lalu yang
buruk namun aku tak mau mengungkit itu, tak ingin menambah rasa sakit yang di
deritanya. Aku hanya ingin membahagiakannya, itu saja harapanku kini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar