Sabtu, 06 Mei 2017

Day 26 0f 30 DWC

Aku Benci Mama Part 2


          Aku merenungkan perkataan Abduh. Ia benar, aku seharusnya bersyukur memiliki mama, ia telah merawatku dengan baik meski harus menjalani pekerjaan yang menjijikkan. Banyak yang berharap bertemu dengan ibunya namun tak bisa, ia lahir dan besar tanpa seorang ibu di sisinya. Aku memutuskan pulang kampung sejenak, aku ingin melihat keadaannya.
          Dan disinilah aku sekarang, berdiri di depan sebuah rumah mungil tempatku menghabiskan masa kecil dengan penuh kegembiraan. Terbayang masa ketika mama sedang mengajariku mengendarai sepeda, aku jatuh berkali-kali hingga lecet dan mama tetap sabar mengajari. Tuhan, apa yang telah kulakukan.
          Aku bergegas, mengetuk pintu dengan pelan. Tak lama suara serak terdengar dari dalam mengatakan untuk menunggu, kaki dan wajahku menegang. Dan pintu pun terbuka, aku menatap sosok yang semakin mengecil itu.
          “Nadia!” suara mama bergetar. Ia memelukku “kau pulang Nak!”
          Aku terpaku, hati perih seperti teriris sembilu. Wanita yang telah melahirkanku ini semakin tirus.
“Mama merindukanmu Nak, maafkan mama yang tak bisa menjadi ibu terbaik untukmu dan membuatmu menanggung malu sepanjang hidup!”
Tangisanku pecah tak mampu aku menahan lagi, kemarahan dan kebencianku menguap. Aku memeluknya dengan erat dan ia pun sama. Kami menangis bersama tanpa kata sampai hati terasa penuh.
Aku memutuskan tak peduli dengan masa lalu mama, tak harus mendengarkan kicauan orang sekitar, wanita ini yang telah melahirkan dan membesarkanku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya dan tak tahu kenapa hatiku terasa damai. Rupanya kebahagiaan yang kucari ada di depan mata. Mama memang memiliki masa lalu yang buruk namun aku tak mau mengungkit itu, tak ingin menambah rasa sakit yang di deritanya. Aku hanya ingin membahagiakannya, itu saja harapanku kini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar