Sabtu, 06 Mei 2017

Day 25 of 30 DWC

Aku Benci Mama Part 1

          “Mama bikin aku malu!” aku berteriak dan berlari menuju kamar dengan air mata yang mengalir.
          Kemarahanku padanya bukannya tanpa sebab. Namun dia benar-benar telah menghancurkan hari terpentingku. Aku sudah mewanti-wanti agar dia tak menampakkan diri di pesta ulang tahunku namun dia tetap ngotot datang dan jadilah aku bahan tertawaan teman-teman.
          Aku sudah berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan identitas sebagai anak seorang wanita susila. Tak ingin menjadi bahan omongan dan dikucilkan dari pergaulan. Aku hanya ingin menjalani hidup layaknya manusia normal lainnya.
          Namun harapan itu pun buyar dalam semalam, mama datang ke pesta ulang tahunku dalam keadaan mabuk dengan pakaian yang begitu terbuka. Berteriak sembari mengucapkan selamat ulang tahun.
          “Selamat ulang tahun Nadia sayang, semoga kau bisa menjalani hidup dengan baik, jangan seperti Mama!” katanya dengan tubuh yang limbung.
          Semenjak peristiwa itu aku mengibarkan bendera perang dengan mama. Lahir dalam keadaan tak berayah saja sudah cukup memalukan ditambah kenyataan aku lahir dari perempuan penjaja kenikmatan itu adalah derita. Aku tak ingin terlibat lagi dengannnya, aku menyelesaikan SMA dan berpindah ke kota.
          Tahun pun berlalu dan aku menikmati hidup sendiri di kota, jauh dan terbebas dari segala macam derita yang diakibatkan masa lalu mama, seharusnya berjalan dengan baik namun tetap saja hatiku tak bahagia. Aku menjalani hidup dengan kehampaan, mencoba menghilangkan hausku akan kebahagiaan namun tak terobati juga.
          “Kau itu harus bersyukur Nadia, kamu masih memiliki Mama!” kata Abduh rekan kerja yang menjadi tempat curhatku. Aku terdiam dan merenung.
          “Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?” tambahnya.
          “Lima tahun yang lalu.” Datar aku menjawab.
          “Aku iri padamu Nad, masih ada sosok wanita yang mendoakan yang terbaik untukmu. Kau tahu kan doa seorang ibu untuk anaknya itu mustajab? Bisa jadi kesuksesan yang sekarang kamu nikmati itu merupakan jawaban dari doa ibumu. Pernahkan kau berpikir seperti itu?”
          Aku menghela nafas panjang, “apa yang harus kulakukan, aku tak mau hidupku menderita lagi. Kenyataan bahwa mamaku seorang pelacur itu sangat mengganggu?”
          “Apa pernah kau tanyakan perihal pekerjaannya itu? Bisa jadi dia melakukannya karena terpaksa.”
          Aku menggeleng.
          “Jangan menghakimi mamamu Nad, ada sebab dan akibat di dunia ini. Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan, mungkin saja ia terluka dan kamu tak tahu, malah menambah parah lukanya. Kau tahu rasanya tak memiliki ibu itu jauh lebih menyedihkan Nad, aku tak pernah tahu bagaimana wajah ibuku. Kamu seharusnya bersyukur.” Abduh menunduk dan terdengar terisak. Dia pun terluka karenaku “temui mamamu Nad, kumohon!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar