Aku Benci Mama
Part 1
“Mama bikin aku malu!” aku berteriak
dan berlari menuju kamar dengan air mata yang mengalir.
Kemarahanku padanya bukannya tanpa
sebab. Namun dia benar-benar telah menghancurkan hari terpentingku. Aku sudah
mewanti-wanti agar dia tak menampakkan diri di pesta ulang tahunku namun dia
tetap ngotot datang dan jadilah aku bahan tertawaan teman-teman.
Aku sudah berusaha semaksimal mungkin
menyembunyikan identitas sebagai anak seorang wanita susila. Tak ingin menjadi
bahan omongan dan dikucilkan dari pergaulan. Aku hanya ingin menjalani hidup
layaknya manusia normal lainnya.
Namun harapan itu pun buyar dalam
semalam, mama datang ke pesta ulang tahunku dalam keadaan mabuk dengan pakaian
yang begitu terbuka. Berteriak sembari mengucapkan selamat ulang tahun.
“Selamat ulang tahun Nadia sayang, semoga
kau bisa menjalani hidup dengan baik, jangan seperti Mama!” katanya dengan
tubuh yang limbung.
Semenjak peristiwa itu aku mengibarkan
bendera perang dengan mama. Lahir dalam keadaan tak berayah saja sudah cukup
memalukan ditambah kenyataan aku lahir dari perempuan penjaja kenikmatan itu
adalah derita. Aku tak ingin terlibat lagi dengannnya, aku menyelesaikan SMA
dan berpindah ke kota.
Tahun pun berlalu dan aku menikmati
hidup sendiri di kota, jauh dan terbebas dari segala macam derita yang
diakibatkan masa lalu mama, seharusnya berjalan dengan baik namun tetap saja
hatiku tak bahagia. Aku menjalani hidup dengan kehampaan, mencoba menghilangkan
hausku akan kebahagiaan namun tak terobati juga.
“Kau itu harus bersyukur Nadia, kamu
masih memiliki Mama!” kata Abduh rekan kerja yang menjadi tempat curhatku. Aku terdiam
dan merenung.
“Kapan terakhir kali kau bertemu
dengannya?” tambahnya.
“Lima tahun yang lalu.” Datar aku
menjawab.
“Aku iri padamu Nad, masih ada sosok
wanita yang mendoakan yang terbaik untukmu. Kau tahu kan doa seorang ibu untuk
anaknya itu mustajab? Bisa jadi kesuksesan yang sekarang kamu nikmati itu
merupakan jawaban dari doa ibumu. Pernahkan kau berpikir seperti itu?”
Aku menghela nafas panjang, “apa yang
harus kulakukan, aku tak mau hidupku menderita lagi. Kenyataan bahwa mamaku
seorang pelacur itu sangat mengganggu?”
“Apa pernah kau tanyakan perihal
pekerjaannya itu? Bisa jadi dia melakukannya karena terpaksa.”
Aku menggeleng.
“Jangan menghakimi mamamu Nad, ada
sebab dan akibat di dunia ini. Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan,
mungkin saja ia terluka dan kamu tak tahu, malah menambah parah lukanya. Kau tahu
rasanya tak memiliki ibu itu jauh lebih menyedihkan Nad, aku tak pernah tahu
bagaimana wajah ibuku. Kamu seharusnya bersyukur.” Abduh menunduk dan terdengar
terisak. Dia pun terluka karenaku “temui mamamu Nad, kumohon!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar