Rabu, 03 Mei 2017

Day 23 of 30 DWC

Menantikan Amanah

Aku menatap bercak merah di hadapanku sembari kembali menitikkan air mata, usaha kami kembali belum membuahkan hasil, sel telurku belum berhasil dibuahi.
          “Kenapa kamu menangis?” Mas datang mendekat dan membelai kepalaku.
          “Gagal lagi Mas,” aku terisak “aku dapat jatah bulanan lagi.”
          “Yah sudah sabar, belum waktunya berarti.”  Mas memeluk dan menenangkanku “kita mungkin belum bisa menjadi orang tua menurut Allah, insya Allah jika waktunya telah tiba maka kita akan dikasih.
          Aku mengangguk dan masih sesenggukan. Aku tahu tentang teori itu namun rasanya masih saja sakit, dada terasa sesak, mungkin karena sudah sangat menginginkan kehadiran bayi kecil di dalam rumah.
          Pernikahanku baru menginjak usia ketiga, masih lumayan baru hanya saja hasrat ingin memiliki anak sudah semakin membesar. Apalagi ditambah pertanyaan ibu mertua yang makin sering mengusikku akhir-akhir ini, sungguh mereka menginginkan cucu dari kami segera lahir. Aku sedikit merasa gagal sebagai seorang wanita, rahimku belum juga bisa ditempati.
          Kami telah mengikuti program sejak setahun yang lalu, berpindah dari dokter yang satu ke dokter yang lain. Mencari referensi dari mereka yang lebih berpengalaman, memakan makanan penyubur hingga mencari alternatif lainnya. Seperti yang direkomendasikan teman sekantor, tentang tukang pijat yang bisa membantu mempercepat kehamilan.
          “Alamatnya di sekitar sini Mas. Jalan ini sudah seperti yang diinstruksikan Mba Nana.” Aku mencoba meyakinkan Mas setelah berulang kali menelusuri jalan yang sama.
          “Ya udah kita pulang aja Dek. Aku sudah lelah, besok aja kita cari lagi.” Kata Masku sembari memutar balik kendaraan. Aku hanya diam, pasrah.
          Sebenarnya itu sudah merupakan tanda dari Allah untuk tak melanjutkan pencarian, namun sebagai ikhtiar kami kembali mencarinya keesokan hari. Akhirnya ketemu dan yang saya dapatkan ternyata sangat mengecewakan. Ibu paranormal yang meminta mahar apabila kehamilan telah terjadi. Bukan untuk dirinya tapi teman yang membantu proses kehamilan katanya. Aku beristighfar dan mengajak suami pulang, tempat yang kami tuju rupanya tempat kesyirikan berlangsung.
          Ikhtiar kami untuk mendapatkan keturunan masih berlanjut, kali ini tanpa hal yang berbau mistis. Kami rutin mengomsumsi madu dan kurma muda, semoga saja Allah berkenan menitipkan amanah itu untuk kami. Dan kami harus lebih bersabar, banyak berdoa dan menyerahkan semua padaNya, mengikhlaskan dan menjalani peran sebagai hambaNya di dunia.
         



Tidak ada komentar:

Posting Komentar