Menantikan Amanah
Aku menatap bercak merah
di hadapanku sembari kembali menitikkan air mata, usaha kami kembali belum
membuahkan hasil, sel telurku belum berhasil dibuahi.
“Kenapa
kamu menangis?” Mas datang mendekat dan membelai kepalaku.
“Gagal
lagi Mas,” aku terisak “aku dapat jatah bulanan lagi.”
“Yah
sudah sabar, belum waktunya berarti.”
Mas memeluk dan menenangkanku “kita mungkin belum bisa menjadi orang tua
menurut Allah, insya Allah jika waktunya telah tiba maka kita akan dikasih.
Aku
mengangguk dan masih sesenggukan. Aku tahu tentang teori itu namun rasanya
masih saja sakit, dada terasa sesak, mungkin karena sudah sangat menginginkan
kehadiran bayi kecil di dalam rumah.
Pernikahanku
baru menginjak usia ketiga, masih lumayan baru hanya saja hasrat ingin memiliki
anak sudah semakin membesar. Apalagi ditambah pertanyaan ibu mertua yang makin
sering mengusikku akhir-akhir ini, sungguh mereka menginginkan cucu dari kami
segera lahir. Aku sedikit merasa gagal sebagai seorang wanita, rahimku belum
juga bisa ditempati.
Kami
telah mengikuti program sejak setahun yang lalu, berpindah dari dokter yang
satu ke dokter yang lain. Mencari referensi dari mereka yang lebih
berpengalaman, memakan makanan penyubur hingga mencari alternatif lainnya. Seperti
yang direkomendasikan teman sekantor, tentang tukang pijat yang bisa membantu
mempercepat kehamilan.
“Alamatnya
di sekitar sini Mas. Jalan ini sudah seperti yang diinstruksikan Mba Nana.” Aku
mencoba meyakinkan Mas setelah berulang kali menelusuri jalan yang sama.
“Ya
udah kita pulang aja Dek. Aku sudah lelah, besok aja kita cari lagi.” Kata Masku
sembari memutar balik kendaraan. Aku hanya diam, pasrah.
Sebenarnya
itu sudah merupakan tanda dari Allah untuk tak melanjutkan pencarian, namun
sebagai ikhtiar kami kembali mencarinya keesokan hari. Akhirnya ketemu dan yang
saya dapatkan ternyata sangat mengecewakan. Ibu paranormal yang meminta mahar
apabila kehamilan telah terjadi. Bukan untuk dirinya tapi teman yang membantu
proses kehamilan katanya. Aku beristighfar dan mengajak suami pulang, tempat
yang kami tuju rupanya tempat kesyirikan berlangsung.
Ikhtiar
kami untuk mendapatkan keturunan masih berlanjut, kali ini tanpa hal yang
berbau mistis. Kami rutin mengomsumsi madu dan kurma muda, semoga saja Allah
berkenan menitipkan amanah itu untuk kami. Dan kami harus lebih bersabar,
banyak berdoa dan menyerahkan semua padaNya, mengikhlaskan dan menjalani peran
sebagai hambaNya di dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar