Klepto
Cantik Part 1
Aku berusaha meredam emosi kakak, kekesalannya
sudah mencapai batas. Emosinya harus didinginkan terlebih dahulu.
“Biar aku yang menghadapinya. Kakak di
sini saja!” kataku kemudian meninggalkan kakak yang masih marah.
Kemarahannya bisa dimaklumi, ponselnya
telah menghilang dikarenakan ulah anak didik sendiri. Awalnya aku tak ambil
pusing ketika kakak heboh kehilangan ponsel, toh itu hanya ponsel jadul dan tak
terlalu berharga. Aku pikir dia hanya salah taruh di suatu tempat hingga pada
akhirnya beberapa kejanggalan
bermunculan dan diambil kesimpulan bahwa ponsel itu telah dicuri.
Kemarin sore rumah kami kedatangan
anak didik kakakku yang ingin belajar lebih intens. Empat orang dara datang dan
menghabiskan sorenya di rumah dengan mengotak-atik rumus matematika. Tak ada
yang janggal ketika itu. Diantara keempat orang itu, dua diantaranya adalah
keponakan kami.
“Jadi bukan kamu yang mengambilnya?”
aku bertanya sembari menatap mata gadis muda di depanku.
“Bukan aku Tante, mana mungkin aku
sejahat itu. Kalian itu kan tanteku, mana mungkin aku menusuk dari belakang.” Dia
mencoba menyakinkan.
“Oke, aku terima.” Kataku memancing “Namun,
jika kamu ketahuan berbohong nanti akan ada konsekuensi yang kamu terima.”
“Baiklah.” Jawabnya santai.
Aku mencoba pendekatan lain, aku harus
mendapatkan pengakuan.
“Setiap orang itu pernah melakukan
kesalahan, tak ada manusia yang suci. Permintaan maaf dari seseorang yang telah
berbuat khilaf itu sangat dihargai dibanding seseorang yang salah namun ngotot
dengan kesalahannya,” aku menghela nafas “Tante tidak akan marah jika kamu
pelakunya asalkan kamu mengakui dan meminta maaf, kita semua pernah berbuat
khilaf.”
Dia terlihat merenung, matanya
menerawang, pandangannya kosong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar