Rabu, 26 April 2017

Day 16 of 30DWC

Nisa

Seperti biasa Nisa mulai beraksi, entah sudah berapa banyak gaya yang dikeluarkan, miring kanan, miring kiri, manyunkan bibir dan gaya-gaya alay yang lain.
            “Sudahlah Sa. Banyak sudah tuh fotomu, penuh  memorinya nanti!” aku mengingatkan
            Ia tak menjawab hanya memanyunkan bibir dan wajah yang ditekuk. Dia pasti kesal karena hobby fotonya kuhentikan. Kalo tidak begitu maka kami masih akan terjebak di tempat ini sementara senja sudah mulai menyapa. Kami bergegas pulang.
            Nisa namanya, keponakanku yang masih remaja dan saat ini tengah bersekolah di Sekolah Menengah Pertama kelas delapan. Seperti kebanyakan remaja putri yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan menonton tivi, melihat drama dan sinetron yang tidak bermutu dan menghabiskan waktunya memikirkan salah satu aktor muda yang tengah digandrungi saat ini.
            Ketika sinetron favoritnya akan segera ditayangkan maka dia akan menguasai remote tivi dan tidak membiarkan yang lain mengusiknya. Tak peduli harus berhadapan dengan kami yang lebih dewasa, intinya sinetron itu tak boleh terlewatkan bagaimanapun caranya, dan jika kami mengingatkan maka hanya cemberut dan kaki yang dihentakkan  menjadi jawabannya.
            Pernah di suatu waktu ketika kami sedang tidur bersama aku terbangun tengah malam untuk pipis. Kebiasaan setelah terbangun maka akan susah untuk tidur kembali, anak ini dengan sengaja bangun menatap ponsel dengan latar belakang wajah aktor favoritnya dan kemudian melanjutkan tidur. aku hanya geleng-geleng kepala dan ketika kutanyai besoknya dia hanya tersenyum lebar.
            “Aku juga pernah seusiamu tapi tak separah dirimu dalam menyukai sesuatu.” Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya.
            “Gak papa kali Tante, toh hanya foto!” Nisa membela diri.
            “Bukannya seperti itu, menyukai sewajarnya saja. Bukan dengan dihayalkan dan dihadirkan dalam mimpi begitu.”
            “Namanya juga suka.” Pendek dan berlalu meninggalkanku.
            Masih banyak kata yang ingin kuucapkan namun dia telah beranjak. Ingin kukatakan tentang wanita-wanita tangguh nan solehah yang memiliki kisah luar biasa, tentang keteladanan Ummul Mukminin yang akhlaknya tak diragukan lagi.
            Memang tak  mudah untuk mendidik anak perempuan, patutlah mereka yang bisa menjaga putrinya dengan baik akan datang bersama Rasulullah dan mendapat surga pada hari akhir kelak. Semoga saja Nisa kelak akan tumbuh dan menjadi perempuan yang solehah dan bisa menghadiahkan surga untuk kedua orang tuanya.


            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar