Nisa
Seperti biasa
Nisa mulai beraksi, entah sudah berapa banyak gaya yang dikeluarkan, miring
kanan, miring kiri, manyunkan bibir dan gaya-gaya alay yang lain.
“Sudahlah Sa. Banyak sudah tuh
fotomu, penuh memorinya nanti!” aku
mengingatkan
Ia tak menjawab hanya memanyunkan
bibir dan wajah yang ditekuk. Dia pasti kesal karena hobby fotonya kuhentikan. Kalo
tidak begitu maka kami masih akan terjebak di tempat ini sementara senja sudah
mulai menyapa. Kami bergegas pulang.
Nisa namanya, keponakanku yang masih
remaja dan saat ini tengah bersekolah di Sekolah Menengah Pertama kelas
delapan. Seperti kebanyakan remaja putri yang sebagian besar hidupnya
dihabiskan dengan menonton tivi, melihat drama dan sinetron yang tidak bermutu
dan menghabiskan waktunya memikirkan salah satu aktor muda yang tengah
digandrungi saat ini.
Ketika sinetron favoritnya akan
segera ditayangkan maka dia akan menguasai remote tivi dan tidak membiarkan
yang lain mengusiknya. Tak peduli harus berhadapan dengan kami yang lebih
dewasa, intinya sinetron itu tak boleh terlewatkan bagaimanapun caranya, dan
jika kami mengingatkan maka hanya cemberut dan kaki yang dihentakkan menjadi jawabannya.
Pernah di suatu waktu ketika kami
sedang tidur bersama aku terbangun tengah malam untuk pipis. Kebiasaan setelah
terbangun maka akan susah untuk tidur kembali, anak ini dengan sengaja bangun
menatap ponsel dengan latar belakang wajah aktor favoritnya dan kemudian
melanjutkan tidur. aku hanya geleng-geleng kepala dan ketika kutanyai besoknya
dia hanya tersenyum lebar.
“Aku juga pernah seusiamu tapi tak
separah dirimu dalam menyukai sesuatu.” Aku menatapnya dengan tatapan tak
percaya.
“Gak papa kali Tante, toh hanya
foto!” Nisa membela diri.
“Bukannya seperti itu, menyukai
sewajarnya saja. Bukan dengan dihayalkan dan dihadirkan dalam mimpi begitu.”
“Namanya juga suka.” Pendek dan
berlalu meninggalkanku.
Masih banyak kata yang ingin
kuucapkan namun dia telah beranjak. Ingin kukatakan tentang wanita-wanita
tangguh nan solehah yang memiliki kisah luar biasa, tentang keteladanan Ummul
Mukminin yang akhlaknya tak diragukan lagi.
Memang tak mudah untuk mendidik anak perempuan, patutlah
mereka yang bisa menjaga putrinya dengan baik akan datang bersama Rasulullah dan
mendapat surga pada hari akhir kelak. Semoga saja Nisa kelak akan tumbuh dan
menjadi perempuan yang solehah dan bisa menghadiahkan surga untuk kedua orang
tuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar