Chika
Part Two
“Aku benci laki-laki Nin!” kata Chika sembari menghapus air matanya.
Aku memeluk dan mencoba
untuk menenangkan.
“Lelaki pertama dalam hidupku adalah orang brengsek, dia sibuk
memukuli ibu dan aku setiap hari, tak bertanggung jawab, penjudi kelas kakap
dan pemain perempuan. Ia lari bersama perempuan yang tak kalah bejatnya. Entah
apa maksud Tuhan menciptakanku dari sperma lelaki bangsat itu. Dan kemudian
ketika aku SMA aku kenalan dengan seorang pria yang kupuja sebagai malaikat
pelindung dan ternyata ia pencabut nyawa. Lelaki brengsek yang memperlakukanku
dengan baik di awal dan meninggalkanku dengan luka yang dalam.” Matanya
mengkilap dan memerah. Aku bisa melihat amarah dan sakit yang dirasakannya.
“Dan lihatlah para lelaki di kampus ini, tatapan mata mereka
seolah menelanjangiku. Aku layaknya boneka lemah yang bisa perlakukan
seenaknya. Mereka hanya tertarik dengan wajahku dan ketika aku sudah takluk
maka mereka memulai memperlihatkan taringnya, siap menerkam dan menguliti.” Chika
berang.
“Dan ketika aku terjatuh, mereka pergi dan tak pernah kembali.
Bahkan berpura tak mengenaliku lagi. Dan yang ada untukku selama ini hanyalah
mama. Memeluk dan menenangkan, memotivasi untuk terus bangkit dan lebih tegar
untuk memulai hidup baru. Kelembutan darinya merasuk ke hati. Jadi salahkah
jika aku lebih memilih wanita untuk berbagi?”
Aku terdiam, sorot matanya sudah mulai terlihat berbeda.
Kemarahannya hilang dan ia memegang tanganku.
“Sosok sepertimu yang begitu pengertian Nin, aku menyukainya.
Kamu ada dan tak meninggalkan aku.” Chika tersenyum
Tuhan, apa yang harus kulakukan, keringat mulai mengucur. Sontak
aku pamit ke toilet dan tak kembali lagi. Aku menggigil ketakutan dan disisi
lain aku ikut bersimpati atas apa yang dialaminya. Namun juga tak bisa
membiarkan diriku terlibat lebih jauh. aku hanya ingin berteman dengannya dan
menjadi sahabat untuknya akan tetapi tatapan matanya padaku berubah menjadi
liar. Aku harus menjaga jarak dengannya.
“Nina, aku menyukaimu,
sudah kukatakan padamu kan? Namun kenapa kamu malah menghindar?”
Aku hanya bisa menangis tak bisa melakukan apa-apa.
“Lihatlah! Karena ulahmu itu aku harus melakukan ini. Kamu tak
boleh pergi dariku, harus tetap di sini bersamaku. Aku akan menjaga dan
memperlakukanmu dengan baik.”
Dan disinilah aku sekarang terbaring lemah dan tak berdaya. Kaki
dan tangan di belenggu serta mulut dibekap. Aku tak seharusnya menerima ajakan
Chika untuk bertemu, namun ketika dia memohon aku tak sanggup untuk menolak.
Aku menunggu di sebuah taman dan terbangun di ruangan putih nan sempit. Rupanya
ia telah memasukkan obat ke dalam minumanku. Aku kini terjebak dan tak bisa
kemana-mana, setiap hari dicekoki dengan obat dan membuat ototku melemah. Kini
dia yang berkuasa dan aku yang menjadi bonekanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar