Ayah
Lelaki yang semakin menua dan melemah
di setiap harinya. Penyakit menggerogoti kesehatannya, nampak hanyalah tulang
belulang berbungkus kulit. Jalannya tertatih, berdiri pun tubuhnya sudah tak
lurus lagi. Shalat terkadang harus dilakoni dengan duduk, entah berapa kali
dalam sebulan ke puskesmas untuk mengobati sakit yang tak kunjung hilang yang
dideritanya.
Lelaki itu adalah ayahku. Lelaki yang
kucintai sepenuh hati, tak ingin melihat ia menderita sedikitpun, tak mau
melihat ia menangis dan bersedih, hanya ingin membahagiakannya.
Mungkin cintaku tak sesempurna
cintanya padaku. Aku masih menjadi anak yang tak berbakti untuknya, masih
seringkali membawa ia terlarut dalam dosa yang kubuat. Masih sering menyakiti
hatinya dengan tingkah lancangku, maafkan anakmu ini Ayah!
Seorang pendiam yang tak bisa
mengekspresikan perasaannya, hanya menyimpan untuk dirinya sendiri. Kadang
terluka dengan sangat dalam namun tetap terlihat tangguh, tak ingin anaknya
mengkhawatirkan hal yang bukan tugasnya.
Ia lelaki yang bertanggung jawab dan
pekerja keras, tak pernah diam di usianya yang tak lagi muda. Mulai dari berdagang
ketika belia dan akhirnya menjadi petani hingga ia menua. Mencari harta halal
untuk anak dan istrinya, melaksanakan tugas sebagai pemimpin keluarga.
Lelaki yang menjadi cinta pertama anak
perempuannya. Lelaki yang akan selalu dicintai dan dipuja, ingin membahagiakan
dan menjadi kebanggaannya untukmu lelaki yang kusebut ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar