Jumat, 28 April 2017

Day 18 of 30 DWC

Ayah
Lelaki yang semakin menua dan melemah di setiap harinya. Penyakit menggerogoti kesehatannya, nampak hanyalah tulang belulang berbungkus kulit. Jalannya tertatih, berdiri pun tubuhnya sudah tak lurus lagi. Shalat terkadang harus dilakoni dengan duduk, entah berapa kali dalam sebulan ke puskesmas untuk mengobati sakit yang tak kunjung hilang yang dideritanya.
Lelaki itu adalah ayahku. Lelaki yang kucintai sepenuh hati, tak ingin melihat ia menderita sedikitpun, tak mau melihat ia menangis dan bersedih, hanya ingin membahagiakannya.
Mungkin cintaku tak sesempurna cintanya padaku. Aku masih menjadi anak yang tak berbakti untuknya, masih seringkali membawa ia terlarut dalam dosa yang kubuat. Masih sering menyakiti hatinya dengan tingkah lancangku, maafkan anakmu ini Ayah!
Seorang pendiam yang tak bisa mengekspresikan perasaannya, hanya menyimpan untuk dirinya sendiri. Kadang terluka dengan sangat dalam namun tetap terlihat tangguh, tak ingin anaknya mengkhawatirkan hal yang bukan tugasnya.
Ia lelaki yang bertanggung jawab dan pekerja keras, tak pernah diam di usianya yang tak lagi muda. Mulai dari berdagang ketika belia dan akhirnya menjadi petani hingga ia menua. Mencari harta halal untuk anak dan istrinya, melaksanakan tugas sebagai pemimpin keluarga.
Lelaki yang menjadi cinta pertama anak perempuannya. Lelaki yang akan selalu dicintai dan dipuja, ingin membahagiakan dan menjadi kebanggaannya untukmu lelaki yang kusebut ayah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar