Minggu, 30 April 2017

Day 20 of 30 DWC

Manusia Bodoh

Aku sedang menikmati secangkir teh ketika Anna datang berkunjung. Sudah kuduga sikap ingin tahunya itu akan membawanya ke sini. Dengan sigap dia sudah sampai di depanku, menghirup secangkir teh yang sedang kunikmati.
“Sorry haus.” Katanya sembari menyengir.
“Silahkan dinikmati tuan putri.” Aku geleng-geleng kepala. Anak ini masih saja seenaknya sendiri.
“Jadi gimana?” Dia mulai mengeluarkan jurus.
“Apa?” Aku pura-pura tidak tahu.
Dia menarik rambutku pelan “Gak usah sok polos, gimana semalam?”
“Biasa aja, gak terjadi apa-apa. Hanya makan malam biasa yang diselingi dengan obrolan biasa.”
“Gitu doang?” Anna cemberut “dia itu calon yang paling bagus dari semua yang kukenalkan padamu. Tampan iya, mapan sudah pasti dan yang paling penting dia tipikal lelaki yang bertanggung jawab.”
“Aku tidak memungkiri hal itu, dia sempurna tapi bukan untukku.” Aku men
Anna terlihat kecewa, entah sudah berapa kali ia menghela nafas panjang.
“Seperti apa sih yang kamu cari Ni?” Anna menggenggam tanganku.
“Aku hanya mencari yang pas dan yang membuatku nyaman bersamanya.”
“Ni, aku hanya ingin kamu bahagia. Tak ingin melihatmu terus sendiri seperti ini.”
“Terima kasih Anna Sayang. Kau tahu memiliki sahabat sepertimu adalah anugerah yang terindah.”
“Tapi kamu harus janji padaku tak akan terus menerus sendiri, kamu harus bertemu seseorang untuk melengkapimu. Nantilah aku carikan yang lebih baik. Kamu harus membuka hatimu Ni.”

Aku mengangguk dan tersenyum simpul. Ada satu rahasia yang belum kubagikan ke semua bahwasanya aku sedang menunggu seseorang yang mungkin saja tidak akan pernah datang. Itu adalah kebodohan dan aku mengakuinya, hanya saja namanya masih saja memenuhi hatiku. Aku ingin membuangnya namun semakin bertahta angkuh di hati. Aku jatuh cinta pada seorang pria dan masih menunggunya seperti orang bodoh dan berharap dia akan segera datang dan memenuhi janji yang pernah kami ikrarkan bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar