Kamu Kapan?
Apa
coba yang bisa kulakukan sekarang jika semuanya mulai menyerangku dengan pertanyaan yang sama? Geram, kesel dan baper
berkumpul jadi satu. Semuanya dikarenakan oleh satu pertanyaan pamungkas yang
sukses membuat hariku sedikit menggalau “ Kamu kapan nyusul”.
Hal
ini kembali menjadi trending topik di kantor, disebabkan teman serumahku yang
juga rekan kerja bulan ini akan mengakhiri masa lajangnya. Dia yang notabene
umurnya jauh lebih mudah dariku dan akan segera memasuki kehidupan yang baru. Jujur
saja ada sedikit iri namun tetap mencoba membesarkan hati “Belum waktumu, sabar
dan tetap positif thinking” bisikku meyakinkan diri sendiri.
“Kita nanti berangkatnya bareng
yah!” Mba ritha teman sekantor mengganggu konsentrasi.
“Iyya Mba.” Jawabku pelan
“Tuh, adek bungsumu aja sudah,
masa kamu kalah.” Salah satu atasan menimpali
“In shaa Allah Pak,” jawabku
pelan “mohon doanya saja.” Lanjutku sembari menebar senyum.
“Dia mah diam-diam,
ujung-ujungnya nyebar undangan.” Brono, rekan kerja ikut nimbrung.
“Aamiin.” Jawabku dengan penuh
kekhusyuan
Sebenarnya aku tak mau terlalu
memikirkan tentang menyempurnakan separuh agama itu, toh jika waktunya telah
tiba semuanya akan berakhir seperti yang seharusnya. Namun situasi yang
tercipta itu, entah kenapa mempengaruhi hatiku yang memang lagi kosong.
“Tenang Mba, jangan terburu-buru,
pilih yang benar-benar terbaik untukmu.” Mba ritha membesarkan hati.
“Iya, itu tuh benar-benar
peristiwa penting, jangan sampai salah melangkah dan salah pilih!” Mba Ina juga
ikut menimpali.
Aku hanya bisa meresapi setiap
kata yang mereka ucapkan. Mereka toh sudah menjalani kehidupan itu dan tentunya
mereka lebih tahu. Bukankah menikah itu bukan tentang siapa cepat atau duluan,
namun yang mampu mempertahankan pilihannya itu hingga sehidup dan sesyurga.
#DayThree,30DaysWritingChallenge
#SquadSeven
Tidak ada komentar:
Posting Komentar