The Last Good Bye
Ternyata rasa
yang kupikir telah berakhir itu masih ada. Aku kembali bermimpi, mimpi yang
indah dan menghanyutkan. Angan kembali membawaku ke masa-masa indah saat kita
melalui waktu bersama. Mimpi-mimpi yang terkubur kembali menyeruak, aku kembali
membangun istana dalam hati dan kaulah yang bertahta di sana.
“Apa kabar?”
tanyamu menjabat tanganku “lama tak
berjumpa.”
“Baik.” Jawanku
lirih.
“Kamu tak
berubah Wi.” Katamu kemudian.
“Inilah aku
dengan segala kelebihan dan kekurangan.”
Dan tanpa
sadar pembicaraan kita terus berlanjut, entah sudah sekian menit berlalu dan
aku menikmati setiap detiknya. Menatap wajah
oval dan memanjakan teling dengan suara baritonmu yang khas, sungguh aku sangat
menikmatinya. Buncahan rinduku, pelan-pelan terobati.
“Wi, hentikan
kegilaanmu sekarang juga!” kata Rana sahabatku, nada suaranya meninggi.
“Apa kamu lupa
dengan luka yang ia torehkan?” lanjutnya kemudian.
“Tapi dia
kembali Na,” aku mencoba meyakinkan “Dia berjanji kali ini akan bertahan di
sisiku.”
“Dan kamu
masih saja percaya dengan kebohongannya,” wajah Rana memerah “kemana dia selama
ini, meninggalkanmu dengan luka menganga karenanya, tanpa kata apapun dan
sekarang kau membuka hati untuknya lagi?”
“Dia belum
dewasa ketika itu Na, dia mengakui semua kesalahan dan ingin memperbaikinya.”
“Dan
perjuanganmu selama ini sia-sia? Setelah kamu bangkit dan kembali terjerat
dalam keadaan yang sama?” kali ini mata Rana memerah,butiran cair pun
menggelinding, “aku yang ada di sampingmu Wi, aku yang melihat perjuanganmu,
aku yang menemanimu dan aku tahu perasaanmu.” Rana berhenti dan kemudian
memegang tanganku.
“Jauhi dia,
jangan biarkan dirimu terjebak lagi. Cukup sekali dia menyakitimu Wi. Lepaskan dia,
jangan terbujuk rayunya. Aku akan menemanimu sampai kau bertemu dengan yang
terbaik.” Kata Rana kemudian memelukku.
Rana, sahabat
dan saudari terbaikku. Dia tahu bagaimana perjuanganku untuk kembali hidup
layaknya manusia. Setelah terpuruk oleh kesalahan yang begitu fatal, jatuh
cinta dengan begitu butanya dan terperdaya hingga akhirnya melanggar norma dan
aturan agama. Akibatnya cinta buta itu menghasilkan malu yang tak terperi,
hamil di luar nikah dan tak ada yang bertanggung jawab. Bahkan keluarga pun
mengusirku dikarenakan malu yang luar biasa. Hanya Rana yang menemaniku,
memberikan dukungan dan doa yang tiada putus. Menyemangatiku untuk tetap hidup
dan melewati semua ini. Hingga akhirnya tahun berlalu dan aku pun bisa
mengangkat muka, berjalan dalam kerumunan.
Bayi kecilku
meninggal, sesaat setelah ia lahir di dunia. Tak sempat mengenal wajahku dan
juga wajah si penyebar benih. Derita demi derita pun kulalui dan berhasil dan
tentu saja Rana tak akan senang jika aku kembali pada pemuda itu, pemuda yang
telah menghancurkan diriku di masa lalu. Aku harus berpikir, tak boleh kalah
oleh nafsu sesaat. Saatnya mengakhiri kisah ini, tak ada lagi serial
selanjutnya. Tutup dan membakarnya hingga menjadi abu dan diterbangkan angin
hingga tak satupun yang tersisa. “Selamat tinggal!” ucapku berbisik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar