Rabu, 19 April 2017

Day 9 of 30 DWC

The Last Good Bye

Ternyata rasa yang kupikir telah berakhir itu masih ada. Aku kembali bermimpi, mimpi yang indah dan menghanyutkan. Angan kembali membawaku ke masa-masa indah saat kita melalui waktu bersama. Mimpi-mimpi yang terkubur kembali menyeruak, aku kembali membangun istana dalam hati dan kaulah yang bertahta di sana.
“Apa kabar?” tanyamu  menjabat tanganku “lama tak berjumpa.”
“Baik.” Jawanku lirih.
“Kamu tak berubah Wi.” Katamu kemudian.
“Inilah aku dengan segala kelebihan dan kekurangan.”
Dan tanpa sadar pembicaraan kita terus berlanjut, entah sudah sekian menit berlalu dan aku  menikmati setiap detiknya. Menatap wajah oval dan memanjakan teling dengan suara baritonmu yang khas, sungguh aku sangat menikmatinya. Buncahan rinduku, pelan-pelan terobati.
“Wi, hentikan kegilaanmu sekarang juga!” kata Rana sahabatku, nada suaranya meninggi.
“Apa kamu lupa dengan luka yang ia torehkan?” lanjutnya kemudian.
“Tapi dia kembali Na,” aku mencoba meyakinkan “Dia berjanji kali ini akan bertahan di sisiku.”
“Dan kamu masih saja percaya dengan kebohongannya,” wajah Rana memerah “kemana dia selama ini, meninggalkanmu dengan luka menganga karenanya, tanpa kata apapun dan sekarang kau membuka hati untuknya lagi?”
“Dia belum dewasa ketika itu Na, dia mengakui semua kesalahan dan ingin memperbaikinya.”
“Dan perjuanganmu selama ini sia-sia? Setelah kamu bangkit dan kembali terjerat dalam keadaan yang sama?” kali ini mata Rana memerah,butiran cair pun menggelinding, “aku yang ada di sampingmu Wi, aku yang melihat perjuanganmu, aku yang menemanimu dan aku tahu perasaanmu.” Rana berhenti dan kemudian memegang tanganku.
“Jauhi dia, jangan biarkan dirimu terjebak lagi. Cukup sekali dia menyakitimu Wi. Lepaskan dia, jangan terbujuk rayunya. Aku akan menemanimu sampai kau bertemu dengan yang terbaik.” Kata Rana  kemudian memelukku.
Rana, sahabat dan saudari terbaikku. Dia tahu bagaimana perjuanganku untuk kembali hidup layaknya manusia. Setelah terpuruk oleh kesalahan yang begitu fatal, jatuh cinta dengan begitu butanya dan terperdaya hingga akhirnya melanggar norma dan aturan agama. Akibatnya cinta buta itu menghasilkan malu yang tak terperi, hamil di luar nikah dan tak ada yang bertanggung jawab. Bahkan keluarga pun mengusirku dikarenakan malu yang luar biasa. Hanya Rana yang menemaniku, memberikan dukungan dan doa yang tiada putus. Menyemangatiku untuk tetap hidup dan melewati semua ini. Hingga akhirnya tahun berlalu dan aku pun bisa mengangkat muka, berjalan dalam kerumunan.
Bayi kecilku meninggal, sesaat setelah ia lahir di dunia. Tak sempat mengenal wajahku dan juga wajah si penyebar benih. Derita demi derita pun kulalui dan berhasil dan tentu saja Rana tak akan senang jika aku kembali pada pemuda itu, pemuda yang telah menghancurkan diriku di masa lalu. Aku harus berpikir, tak boleh kalah oleh nafsu sesaat. Saatnya mengakhiri kisah ini, tak ada lagi serial selanjutnya. Tutup dan membakarnya hingga menjadi abu dan diterbangkan angin hingga tak satupun yang tersisa. “Selamat tinggal!” ucapku berbisik.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar