Selasa, 18 April 2017

Day 7 of 30DWC

Lelaki Tua

Lelaki tua itu terengah-engah, keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Padahal jarak yang harus ditempuh masih lumayan panjang. Dia berhenti sejenak beristirahat. Topi usangnya dijadikan kipas untuk mengeringkan keringat yang masih saja mengucur. Dia `harus pulang, sang istri yang sama rentanya telah menunggu di rumah.
Perjalanan pulang selalu menjadi bagian yang penuh dengan kenangan. Dia menyusuri jalan sembari mengenang semua hal yang telah dilalui. Tentang pekerjaan yang tak pernah berubah seumur hidupnya, menjadi peladang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tentang anak yang tak pernah didapatkannya, Tuhan belum memberikan amanah yang sangat diharapkannya itu. Tentang cinta yang akhirnya menjadi pendamping, menemani dalam suka dan duka. Tentang hidup yang mungkin tak jua berpihak padanya, sederhana dan cenderung kekurangan.
Seperti hari ini, ketika matahari belum menampakkan diri, dia sudah bergegas membawa hasil ladangnya. Dengan susah payah menyusun dan mengikat di sepeda ontel tua, satu-satunya kendaraan yang menjadi penolong dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Sepagian dia membawa hasil ladangnya menuju pasar di desa sebelah yang jaraknya kurang lebih lima kilometer, berharap hasil ladangnya yang tak seberapa itu bisa mendapatkan hasil yang lumayan. Dia harus tiba di pasar sebelum pagi menyingsing sehingga hasil ladangnya masih dalam keadaan segar dan dinilai dengan harga yang lebih tinggi.
Dia terlambat tiba di pasar dan segera menuju ke pengepul sayur langganannya. Dia menyapa dengan penuh semangat dan senyum mengembang mencoba meyakinkan bahwa semuanya masih baik-baik saja, namun usahanya itu tetap tak menggoyahkan Sang Tuan. Hasil kebunnya dihargai rendah, hanya beberapa lembar ribuan yang tak cukup untuk sebuah hadiah yang sudah direncanakannya.
Ia menundukkan pandangan, menarik nafas panjang, bayangan tentang jilbab permintaan sang istri pun menguap. Ia kecewa pada dirinya tak mampu mewujudkan permintaan sang kekasih. Ia menelan ludah, menatap deretan kain penutup kepala itu. Teringat akan perkataan sang istri “Aku ingin menutup kepala Pa. Kita sudah tak muda lagi, rasanya waktu kita hampir tiba, aku ingin pulang menghadap Tuhan dengan keadaan tertutup.”  Matanya membasah seketika.
Kali ini perjalanan pulang pun terasa lebih lama, seolah melewati jarak yang tak kunjung berakhir. Entah sudah kesekian kalinya dia beristirahat. Padahal dia sudah sangat ingin tiba di rumah, ingin menyaksikan wajah sumringah sang istri ketika menyambutnya. Kantong plastik tak lepas dari genggamannya, hadiah yang diinginkan akhirnya bisa direalisasikan. Untung saja penjual itu baik hati, mau mengerti keadaan dirinya yang sedang kesulitan. “Buat istri Bapak saja, insya Allah saya ikhlas.” Demikian kata perempuan setengah baya tadi sembari memberikan senyum terbaiknya, bahkan pelukan hangat darinya terasa menjalar sampai ke hati. Allah memang selalu memilik rencana sendiri, dibungkus begitu rapi dan dengan caranya yang indah.
Wajah sang istri dalam balutan jilbab nampak begitu berbeda, memang tak secantik dulu tapi bekas-bekasnya masih tersisa. Ia tersenyum “Terima kasih Pa,” Ungkapnya dengan mata yang berbinar. Menatap senyum itu, senyum yang selalu menemani dan membesarkan hati, rasa lelah pun menguap.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar