Lelaki Tua
Lelaki tua itu terengah-engah,
keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Padahal jarak yang harus ditempuh
masih lumayan panjang. Dia berhenti sejenak beristirahat. Topi usangnya
dijadikan kipas untuk mengeringkan keringat yang masih saja mengucur. Dia `harus
pulang, sang istri yang sama rentanya telah menunggu di rumah.
Perjalanan pulang selalu menjadi
bagian yang penuh dengan kenangan. Dia menyusuri jalan sembari mengenang semua
hal yang telah dilalui. Tentang pekerjaan yang tak pernah berubah seumur
hidupnya, menjadi peladang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tentang
anak yang tak pernah didapatkannya, Tuhan belum memberikan amanah yang sangat
diharapkannya itu. Tentang cinta yang akhirnya menjadi pendamping, menemani
dalam suka dan duka. Tentang hidup yang mungkin tak jua berpihak padanya, sederhana
dan cenderung kekurangan.
Seperti hari ini, ketika matahari
belum menampakkan diri, dia sudah bergegas membawa hasil ladangnya. Dengan susah
payah menyusun dan mengikat di sepeda ontel tua, satu-satunya kendaraan yang
menjadi penolong dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Sepagian dia membawa
hasil ladangnya menuju pasar di desa sebelah yang jaraknya kurang lebih lima
kilometer, berharap hasil ladangnya yang tak seberapa itu bisa mendapatkan
hasil yang lumayan. Dia harus tiba di pasar sebelum pagi menyingsing sehingga
hasil ladangnya masih dalam keadaan segar dan dinilai dengan harga yang lebih
tinggi.
Dia terlambat tiba di pasar dan
segera menuju ke pengepul sayur langganannya. Dia menyapa dengan penuh semangat
dan senyum mengembang mencoba meyakinkan bahwa semuanya masih baik-baik saja,
namun usahanya itu tetap tak menggoyahkan Sang Tuan. Hasil kebunnya dihargai
rendah, hanya beberapa lembar ribuan yang tak cukup untuk sebuah hadiah yang
sudah direncanakannya.
Ia menundukkan pandangan, menarik
nafas panjang, bayangan tentang jilbab permintaan sang istri pun menguap. Ia kecewa
pada dirinya tak mampu mewujudkan permintaan sang kekasih. Ia menelan ludah,
menatap deretan kain penutup kepala itu. Teringat akan perkataan sang istri “Aku
ingin menutup kepala Pa. Kita sudah tak muda lagi, rasanya waktu kita hampir
tiba, aku ingin pulang menghadap Tuhan dengan keadaan tertutup.” Matanya membasah seketika.
Kali ini perjalanan pulang pun
terasa lebih lama, seolah melewati jarak yang tak kunjung berakhir. Entah sudah
kesekian kalinya dia beristirahat. Padahal dia sudah sangat ingin tiba di rumah,
ingin menyaksikan wajah sumringah sang istri ketika menyambutnya. Kantong plastik
tak lepas dari genggamannya, hadiah yang diinginkan akhirnya bisa
direalisasikan. Untung saja penjual itu baik hati, mau mengerti keadaan dirinya
yang sedang kesulitan. “Buat istri Bapak saja, insya Allah saya ikhlas.” Demikian
kata perempuan setengah baya tadi sembari memberikan senyum terbaiknya, bahkan
pelukan hangat darinya terasa menjalar sampai ke hati. Allah memang selalu
memilik rencana sendiri, dibungkus begitu rapi dan dengan caranya yang indah.
Wajah sang istri dalam balutan
jilbab nampak begitu berbeda, memang tak secantik dulu tapi bekas-bekasnya
masih tersisa. Ia tersenyum “Terima kasih Pa,” Ungkapnya dengan mata yang
berbinar. Menatap senyum itu, senyum yang selalu menemani dan membesarkan hati,
rasa lelah pun menguap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar