Day two, 30 Days Writing Challenge, Squad Seven (7)
Merantau
Akhir maret 2015 aku memulai cerita ini. Kisah yang hingga detik ini masih disusun dan belum diketahui akan berakhir seperti apa. Aku berhijrah, demikian aku mnyebutnya, dari kampung halaman yang baik menuju pulau seberang yang in shaa Allah lebih baik.
Takdir yang memanggil, demikian aku menyebutnya. Setelah sempat putus asa dengan semua usaha yang telah diupayakan dan Allah pun mencurakan kasihNya dan disinilah aku sekarang, Kalimantan Utara.
Memang sih orang bugis itu dikenal sebagai perantau ulung, bahkan nenek moyang kami mengelilingi penjuru dunia dengan kapal pinisinya yang terkenal namun seorang sirah hanyalah anak bungsu yang belum pernah terpisah dari orang tua, masih lekat dengan segala kemanjaan dan ketidak mandiriannya dan akhirnya harus hidup sendiri di tempat baru dan tidak dengan siapapun.
Dan hidup pun harus tetap berjalan, aku yang tadinya was-was dengan penyesuaian lingkungan baru pada akhirnya bertahan dan menaklukkan ketakutan yang muncul. Ternyata tak sesulit yang dibayangkan, hanya perlu bertahan dan menjalani, toh semuanya kisah hidup telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Kata-kata ini selalu saja menguatkan, memberikan kekuatan dengan caranya sendiri.
So, anak perantau dimanapun kalian berada, just remember dikesendirianmu di daerah orang ada Allah yang selalu bersamamu dan tak pernah meninggalkan. Kalian luar biasa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar