Jilbab Miss Cybo
“Ma, pokoknya besok aku mau rebonding.” kataku penuh ketegasan pada mama yang sedang asyik berjibaku dengan rumput-rumput nakal di kebun.
Mamaku yang besar di kampung tidak mengerti kata-kata itu, ia hanya bisa melongo.
“Kamu mau ngapain Nak?” tanyanya penasaran.
“Rebonding Ma, itu yang lurusin rambut.” kataku menjelaskan
“Oalah!” kata mama datar.
“Bolehkan Ma?” tanyaku penuh harap
Aku memasang aksi, muka memelas dengan mata yang berkedip-kedip bukan karena cacingan hanya mencoba memaksimalkan tampan yang kumiliki, berharap mama akan merestui keinginanku dan tak lupa rapalan doa yang tiada henti dalam hati.
“Yakin kamu mau ribunding?”
“Rebonding Ma bukan ribunding. Biarpun nanti kepalaku sakit, atau kulit kelapa mengelupas tapi tidak apa-apa yang penting benda ini harus bisa dihilangkan." kataku sembari menunjuk rambut kribo superku.
“Ya sudah terserah kamu, mama hanya bisa bilang kalau kita itu harus mensyukuri setiap ciptaan TUHAN Nak.”
Akhirnya mama luluh juga (yessss!!!!), senyum termanis mengembang di bibirku. Aku yakin madupun kalah manis dengan senyumku ini. Besok aku akan ke kota untuk menghilangkan semua jejak rambut kriboku yang selama 16 tahun bertahta dengan angkuhnya di kepalaku. Yang mampu menghadirkan jejak-jejak sakit hati di dalam dada ketika harus mendengar cibiran panas dari orang-orang.
Berbekal uang tabunganku selama setahun, aku melangkah penuh gairah menuju Salon Bella, Salon yang terkenal di kotaku. Salon yang penghuninya eyke-eyke semua dengan jari kelingking yang selalu berdiri. Betul-betul kemayu! (entah kenapa yang seperti ini banyak tumbuh subur)
“Pagi!” seruku dengan penuh semangat.
“Pegong Nek, ada yang bisa eyke bantu?” Mas salon menyapa besaha ramah.
“Aku mau rebonding Mas.” kataku dengan penuh keyakinan.
“Jangan panggil Mas dong, nggak lihat udah centong-centong begini. Panggil mbak aja yah Nek.” pintanya sembari membetulkan make up tebalnya.
“Oke deh Mbak.” kataku mencoba mencairkan suasana, lebih baik mengalah daripada tidak mendapat service yang memuaskan.
“Coba eyke lihat dulu,,, Tolong topinya dibuka!” pinta Mbak Eyke.
Aku membuka topi dan mencoba merapikan rambutku dan tiba-tiba…
“Astaga, ini Rambut apa sarang tawon sih?” Kata Mbak Eyke kaget.
“Ya rambutlah Mas, eh Mbak.” kataku mencoba meyakinkan.
“Ya ampun, sudah bertahun-tahun eyke kerja di salon baru kali ini nemuin yang kayak beginian.” katanya mencoba menghindar.
“Itu artinya selama karier Mbak belum pernah menemukan tantangan yang berarti, anggap aja rambutku ini batu loncatan Mbak untuk karir yang lebih melesat kedepannya.” kataku mencoba merayu.
“Eyke piker-pikir dulu deh.” katanya bingung.
“Jangan khawatir Mbak, berapapun harganya akan aku bayar asalkan rambut ini segera berubah.” rayuku dengan kekuatan maksimal.
“Eh jangan salah, ini bukan tentang uang Nek, eyke nggak yakin hasilnya akan memuaskan. Rambut You itu langka sekali.”
“Tolonglah Mbak, Please help me, hanya Mbak yang bisa menolongku!” kataku memelas sambil mengedipkan mata.
“Baiklah jika you memaksa, tapi ingat eyke nggak janji hasilnya sempurna.” katanya mengalah.
“Oke deh Mbak yang cantik.”
Mbak salon menyuruhku duduk dan bersiap-siap mencuci rambutku. Aku menikmatinya dengan hati yang berbunga-bunga. Diapun menaruh semacam cream rambut di kepalaku dan mendiamkannya kurang lebih sejam. Biar meresap begitu kata Mbak Salon. Aku cuek-cuek saja meski baunya menusuk hidung. Aku harus bertahan demi kemerdekaanku dari rambut kribo ini.
Sejam berlalu, rambutku kembali dicuci dan dikeringkan. Dan inilah saat yang paling menentukan, dengan bermodalkan beberapa catokan dan sebuah sisir mulailah Mbak Salon beraksi. Rambutku ditarik ke atas, ke bawah, ke kanan, ke kiri rasanya sakit bukan kepalang. Ditambah jika tepi catokan mengenai kulit kepala rasanya perih bukan main. Huffftssss susah digambarkan, intinya sakit membahana badai.
Setelah hampir seharian bergelut dengan panas dan rasa sakit akhirnya selesai juga. Aku menatap rambutku di cermin dan Masya Allah sudah kempis. Dari yang tadi megar menutupi kepala sekarang sudah tersusun rapi. Aku merasa sangat puas dengan hasilnya, buru-buru aku mengambil hape dan mengambil gambar diri dan membagikan kebahagian yang saat ini kurasakan di wall facebookku tak lupa kutulis “selamat tinggal Kribo”.
Aku segera membayarnya dan bergegas pulang karena sudah hampir maghrib. Akupun mendengarkan setiap petuah Mbak Salon dengan seksama, kucatat dalam memori setiap pantangan yang harus kupatuhi.
Dua sampai tiga bulan semuanya baik-baik saja. Aku sudah memamerkan pada mereka yang selama ini telah mencemohku. Bahkan mereka mulai menerima kemanisan wajahku yang selama ini tertutup rambut kribo, bahkan diantara teman lelaki sudah ada beberapa yang titip salam padaku meskipun tak kutanggapi. Syukurlah aku tidak lagi menjadi bahan cemohan.
Memasuki bulan ke empat, tanda-tanda bencana sudah mulai bermunculan, rambutku mulai tumbuh, pangkalnya mulai menunjukkan bentuk aslinya dan aku mulai khawatir. Jangan sampai kribo itu balik lagi padaku setelah semua yang aku lalui selama ini.
Aku mulai dihinggapi perasaan kurang PD. Rasa itu kembali bertahta di benakku. Apa yang harus kulakukan, duit tabunganku sudah habis untuk rebonding tiga bulan yang lalu dan dapat dipastikan mama nggak punya budget untuk rebondingku yang kedua. Aku bingung, aku mulai memenjarakan diri di kamar dan berdoa pada TUHAN agar mengirimkan seorang malaikat yang akan memberiku uang yang tak terduga atau berharap ada tas yang berisi penuh dengan uang jatuh di suatu jalan dan aku yang menemukannya. Beginilah jika sudah putus asa, pikiran melanglang buana ke arah mana pun.
“Tok… tok….” suara pintu kamarku diketuk seseorang.
“Siapa?” tanyaku parno.
“Ini aku Cybo, Ananda.”
Wah Ananda datang. Syukurlah!! Hanya dia yang selama ini setia menjadi temanku disaat kribo maupun lurusku. Cewek manis berlesung pipit dan juga teman sebangkuku yang baru beberapa bulan yang lalu mengenakan jilbab. Aku menuju pintu dan membukakan untuknya. Dia kelihatan lebih cantik hari ini dengan longdress biru dipadukan dengan jilbab panjang menutupi dada dengan warna senada. Sejuk dipandang mata.
“Masuk Nan!” kataku gontai.
“Iyya,” jawabnya dan kemudian duduk di sampingku dan kemudian memelukku “gak usah sedih gitu dong.” katanya mencoba menghibur.
“Gimana aku nggak sedih Nan, lihat nih rambutku!” kataku memperlihatkan rambut yang mulai mekar.
“Ah gak papa kok, itu mah biasa.”
“Biasa gimana Nan? Bisa dipastikan aku akan menjadi bahan ejekan lagi di sekolah.” kataku sedih.
“kamu nggak usah sedih gitu dong, aku punya solusi buat kamu.” kata Nanda.
“Solusi? Serius? Apaan?” kataku penasaran.
“Nih” katanya sambil menyodorkan sesuatu padaku.
Aku heran, sebuah kotak yang terbungkus rapi.
“Apaan nih?” tanyaku penasaran dengan dahi mengkerut.
“Buka aja!” katanya dan tersenyum padaku.
Aku akhirnya menerima solusi dari Nanda, tak ada yang salah dengan solusi yang dia berikan padaku. Lagipula hal itukan sudah menjadi kewajiban setiap wanita yang mengaku beragama islam. Dan setelah kupikir-pikir, hal itu adalah jalan terbaik, aku tak perlu lagi sibuk mengurusi hal-hal yang tidak penting. Tinggal fokus memperbaiki hati dan niatku yang sepertinya juga membutuhkan rebonding agar kembali ke jalan yang lurus.
-------------------------------------------------------------
Kini aku tak perlu lagi mendengar cemohan dari teman-temanku. Tak ada lagi yang mengganggu pikiranku dan rasanya lega banget. Aku hanya harus serius menghadapi ujian akhir yang tinggal beberapa bulan lagi. Kribo, rambut, bedak dan bla bla semuanya telah kutinggalkan.
Hari ini aku dan Ananda bergandengan tangan memasuki sekolah. Rasanya sangat bahagia memiliki seorang sahabat yang begitu menyayangi kita.
“Assalamu alaikum Jilbaber!” sapa temanku.
“Waalaikum salam Warahmatullahi wabarakatuh.” jawab kami bersamaan.
“Terima kasih Ananda atas hadiah hijabmu, meski pada awalnya hanya untuk menutupi kriboku tapi pada akhirnya aku benar-benar telah jatuh hati padanya, Uhibbuki Fillah ukhti.” kataku memandang wajah sahabatku.
“Gak usah dibahas, itu hadiah dari ALLAH untukmu.” kata Ananda
Ananda dan aku tersenyum dan melangkah dengan penuh semangat memasuki gerbang ilmu itu, dan hatipun damai merasakan cinta tulus dan murni dari saudari muslimku. Cinta karena ALLAH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar