Rabu, 22 April 2015

Mendamba dalam diam

Sebuah karya yang konon katanya pernah menampakkan diri di koran daerahku. 

DIAM-DIAM AKU MENCINTA
Aku berdiri di balik rerimbun pohon, diam dan damai dalam kesendirian. Menatap seksama wajah kukuh itu, dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, menikmati sejenak pemandangan indah di hadapanku. Mata sipit yang dipadukan dengan hidung mancung sempurna, alis tebal dengan rambut hitam berkilauan. Aku selalu memimpikan dapat memegang wajah itu, menggenggam tangannya atau mungkin bersandar di bahunya.
            “Syifaa!” Rene sahabatku menepuk punggungku. Sontak membuatku kaget.
            “Duh Rene, bisa nggak sih kamu tidak mengagetkanku.” Kataku dengan mulut yang dimanyunkan.
            “Maaf Neng, lagian serius amat sih.” Rene duduk di sampingku “emang ngeliatin apaan?”
            “Ini lagi belajar, besok kan kita tes.” Ucapku berbohong.
            “Kok aku gak percaya yah. Sepertinya ada bias-bias kebohongan dalam perkataanmu. Nada suaramu bergetar, menandakan mulut dan hatimu berbeda.” Kata Rene sok tahu.
            “Sokta deh kamu.” Kataku gemes menjawil pipi temben Rene.
            Mata detektif Rene mulai melancarkan aksinya, dalam sekejap dia telah menyisir halaman kampus yang tak seberapa luasnya. Hidungnya kembang kempis dan matanya berbinar.
            “Aku tahu kamu lagi ngapain di sini? Lagi ngintipin seseorang kan? Ngaku!” Tanya Rene penuh antusias.
            Aku tak bersuara, hanya senyum dikulum yang menjawab pertanyaan Rene.
            “Rio lagi kan?” Rene menatapku lekat, aku mengangguk pelan.
            “Dia sudah punya pacar, Belinda anak ekonomi. Sadar Syifa!”
            “Aku tahu kok,”
            “Terus kenapa?”
            “Hanya saja dia terlanjur sempurna di mataku, bukan hanya fisik yang mempesona namun jiwanya juga mengagumkan. Dia cinta pertamaku.”
            “What?” mata Rene membelalak, tak percaya.
            “Benar Re, he is my first love. Bagiku seperti itu.”
            “Maksudnya?”
            “Jadi gini, aku sama Rio itu dulu satu SD. Aku kelas tiga dan dia kelas lima. Waktu itu, ada anak lelaki kelas enam yang sering membully dan meminta uang jajanku. Karena dulu aku kecil dan kurus jadi mau tidak mau aku kasih. Karena jengah sudah berulangkali, aku berusaha melawannya tapi tetap kalah. Nah disaat itulah Rio tiba-tiba muncul dan membelaku. Meski kami berdua tetap kalah namun sejak saat itu aku merasa memiliki seseorang yang peduli padaku.”
            “Seperti sinetron saja.”
            “Iya sih, tapi sayang endingnya tak berakhir bahagia.”
            “Rio masih mengenalimu?”
            “Setidaknya dia selalu tersenyum setiap kali kami bertemu.”
            “Itu mah biasa banget kali Neng, Rio kan memang murah senyum.”
            “Aku tahu itu.”
            “Terus, kamu mau memperkenalkan kembali dirimu padanya?”
            “Entahlah, mungkin saja dia lupa padaku. Aku takut hal itu yang akan terjadi, karena itu aku memilih mengawasi dari jauh saja.”
            “Memang lebih baik begitu, kamu sama Belinda, menangan Belindalah kemana-mana.” Rene jujur.
            “Kamu itu teman aku apa bukan sih? Gak mendukung banget.” Kataku setengah kesal, hatiku perih mendengarkan penilaian Rene.
            “Lebih baik begitu Neng, agar kamu tetap berada di dunia nyata. Jangan terbawa perasaan yang akan membuatmu tenggelam dalam dunia mimpi. Sadar Syifa, kau hanya akan jadi pengagumnya, sama seperti puluhan perempuan lain. ”
            “Terima kasih sudah mengingatkan.” Kataku masih dengan perasaan dongkol.
            Aku menatap kembali wajah di seberang sana, dia tersenyum, bahagia, sementara tangannya menggenggam tangan wanita lain. Sakit? Sudah pasti, namun aku harus bisa menahannya. Kelak rasa sakit itu akan mendewasakanku.
            Rene benar, adakalanya kita harus merasakan sakit untuk mengembalikan kita ke tempat seharusnya. Aku mengagumi Rio bahkan mencintainya dari dulu, namun aku tak punya banyak keberanian untuk mengungkapkannya. Aku takut karena level kami yang berbeda, dia dengan pesona yang menggiurkan sedang aku dalam kesahajaanku.
            Karena itu aku memilih mundur dari pertarungan, karena ini bukanlah perangku. Setidaknya dengan menjadi pengagum, aku bahagia meski harus melihat ia merangkul wanita lain. Seperti inilah menjadi pecinta, pecinta dalam diam, yang hanya bisa menatap dari jauh tanpa bisa menyentuh raga dan kedalaman hatinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar