Senin, 08 Juni 2015
Yogya dan Renja
Kenangan di kota Gudeg.
Untuk kedua kalinya aku kembali ke kota ini. Kota yang begitu menarik perhatian, kota yang begitu ramai dengan wisatawan, berseni dan sedikit mistis. Setidaknya itu penilaianku.
Dengan segala kesunyian yang kubawa dari Kalimantan, aku menjejaki kota ini. Mencoba menikmati segala rasa yang tercipta. Takjub, bahagia dan Wob berpadu menjadi satu.
Dari cerita yang mampir di telinga, konon di kota ini semua serba murah. Dengan uang Rp10.000,- kita bisa duduk berleha-leha menikmati sajian yang menggunung. Itu katanya!
Namun Fact berbicara lain, sajian makanan di sepanjang Malioboro itu Muahal.
Bahkan jauh lebih mahal dibanding harga di Kalimantan. Sedikit kecewa dengan kejadian ini namun kita tetap harus menikmati perjalanan bukan???
Hal lain yang menyita perhatianku adalah sebuah tempat perbelanjaan di seputaran pasar beringharjo. Aroma kemenyan menusuk hidung ketika melangkahkan kaki ke sana. Sesajen dengan dupa berada di depan sebuah kereta. Entah apa namanya, mungkin dulu pernah menjadi kendaraan orang-orang dikeramatkan. Alunan lagu berbahasa jawa menambah mistis tempat itu. Mungkin saat itu setan-setan ikut meramaikan tempat itu, tertawa melihat ulah manusia yang terlalu berani menentang Tuhan.
Dan juga pertunjukan jalanan yang penuh dengan seni. Alunan alat musik tradisional (entah apa namanya) mendendangkan nada-nada lagu modern. Menghibur dan berkelas. Mereka berhak mendapatkan penghargaan. Keren deh pokoknya.
Juga terdapat cerita tentang pengemis yang banyak berseliweran. Mencoba menggugah perasaan manusia dengan segala ketidakmampuannya. Padahal masih termasuk produktif namun memilih cara penghidupan yang tidak diberkahi. Hmmmm, miris.
Seniman lain adalah para penjajah suara. Bermodalkan gitar dan suara mereka bisa meraup rupiah dalam hitungan menit. Setidaknya mereka telah berusaha. But anyway, artis jalanan kemarin yang kutemui memiliki suara yang seksi, serak namun menggoda. Terima kasih Pak sudah mendendangkan lagu Jawa sesuai permintaan, meski kuakui aku tak mengerti.
I think thats all. Ngantuk mulai menyerang. Lebih baik kuakhiri sebelum deretan huruf aneh tak terbaca hadir di depan kalian.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar