Rabu, 22 April 2015

Uang Pannaik

Adat istiadat kampungku yang mulai menggila menjadi inspirasi ketika jemariku beraksi. Karya kecilku yang semoga saja bisa menjadi awal karya besarku nantinya.... AAMIIN YA RABBAL ALAMIN

A Story from Buginess

Uang Pannaikku

            Rumah panggung berwarna cokelat itu tampak riuh, orang-orang duduk santai dengan dandanan rapi. Esse, putri sang pemilik rumah nampak sumringah, matanya berbinar penuh kebahagiaan, tak lupa senyum selalu menghiasi wajah manisnya.
            “Esse, coba tanya Nak Sahar sudah di manakah mereka?” Pak Andi, tokoh masyarakat sekaligus paman Esse bertanya. Peluh menetes di dahinya, cuaca memang cukup panas hari itu.
            “Sebentar Fung, saya telepon dulu.” Jawab Esse kemudian memencet tombol hape yang sedari tadi dipegangnya.
            “Sudah di jalan Fung, Insya Allah 10 menit lagi sampai.” Kata Esse kemudian. Ia segera memberitahukan keluarganya yang lain. Mereka harus bersiap-siap.
            Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti sempurna di depan rumah itu.Tiga orang lelaki memakai jas hitam, lipa sabbe dan songkok tobone sedang tiga perempuan memakai baju renda dipadukan  jilbab dengan warna senada. 
            Pak Andi menyambut mereka dengan penuh antusias, meski tak ada lagi galigo yang biasanya menjadi pembuka acara. Mereka naik satu persatu dan dipersilahkan duduk. Setelah berbasa-basi selama beberapa menit, mereka pun memulai acara madduta.
            “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Kata Daeng Manessa yang dijawab oleh mereka yang hadir dalam rumah panggung itu.
“Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih atas penyambutan yang luar biasa ini. Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Daeng Manessa dan saya ditunjuk sebagai juru bicara mewakili keluarga Pak Ambo Gau yang bermaksud untuk melamar ananda Esse untuk keponakan kami ananda Saharuddin.” kata Daeng Manessa lugas.
            “Terima kasih kembali kami haturkan. Mengenai niat baik dari keluarga, kami telah bermusyawarah dan memutuskan menerima lamaran dari keluarga Bapak Ambo Gau.” Kata Pak Andi.
            Esse, Sang calon pengantin wanita berdiam diri di kamar berdoa dengan khusyu.
*****
            “Bagaimana ini Esse, apa yang harus aku lakukan, kenapa sebanyak itu yang mereka pinta?” suara Saharuddin bergetar dari balik telepon.
            “Maafkan aku Kak.” Esse terisak.
            “Kamu tahu Ibu sedang marah sekarang. Bahkan memintaku untuk mencari wanita lain. Kita kan sudah sepakat mengenai hal itu, tidak bisakah kau memberitahu keluargamu?”
            “Aku sudah mencobanya Kak, bahkan bagiku, Kakak datang meski hanya dengan seperangkat alat sholatpun akan kuterima. Ini tradisi keluarga yang tak dapat kutolak.”
            “Jadi bagaimana sekarang?” Saharuddin gusar. “Ibu ingin bicara denganmu.”        
            “Iya Kak.” Esse menahan nafas, wajahnya kian memerah.
            “Nak Esse, bukannya aku tak menyukaimu, tapi apa yang diminta keluargamu tak dapat kami penuhi. Jika kamu memang mencintai anakku, mintalah keluargamu untuk mengerti. Tiga puluh juta dan satu set perhiasan emas terlau berat buat keluarga kami.” Tegas Bu Sitti.
            “Saya akan coba Bu. Mudah-mudahan keluarga besarku mau mengerti.” Kata Esse dengan nada tertahan, suaranya kian bergetar. Dia linglung, ia mencintai Saharuddin sepenuh hati namun keluarganya juga tak mau mundur dari keputusaannya. Dia tak ingin kehilangan Saharuddin namun tak jua ingin memberikan aib bagi keluarga besarnya. Pernikahan yang ia dambakan mungkinkah akan terwujud?
            “Ingat Esse, kita ini keluarga terhormat. Saharuddin seharusnya sudah tahu itu. Jika dia memang mencintaimu maka dia akan mengikuti keputusan kami ini.” Kata Pak Andi sang paman terngiang-ngiang di telinganya.
****
            “Selamat yah Esse, semoga berkah pernikahannya.” Teman-teman Esse satu persatu menyalaminya.
            “Terima kasih.” Jawab Esse.
            Esse akhirnya kembali tersenyum setelah melewati badai cobaan. Keluarga besarnya pun bangga berhasil mempertahankan siri’nya. Esse menikah dengan uang pannaik yang begitu besar. Mereka tak tahu bahwa buku tabungan Esse telah kosong. Dia harus menambahkan agar pesta hari itu tetap tejadi.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar