A Story from Buginess
Uang Pannaikku
Rumah
panggung berwarna cokelat itu tampak riuh, orang-orang duduk santai dengan
dandanan rapi. Esse, putri sang pemilik rumah nampak sumringah, matanya
berbinar penuh kebahagiaan, tak lupa senyum selalu menghiasi wajah manisnya.
“Esse,
coba tanya Nak Sahar sudah di manakah mereka?” Pak Andi, tokoh masyarakat
sekaligus paman Esse bertanya. Peluh menetes di dahinya, cuaca memang cukup
panas hari itu.
“Sebentar
Fung, saya telepon dulu.” Jawab Esse kemudian memencet tombol hape yang sedari
tadi dipegangnya.
“Sudah
di jalan Fung, Insya Allah 10 menit lagi sampai.” Kata Esse kemudian. Ia segera
memberitahukan keluarganya yang lain. Mereka harus bersiap-siap.
Tak
lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti sempurna di depan rumah itu.Tiga
orang lelaki memakai jas hitam, lipa sabbe dan songkok tobone sedang tiga
perempuan memakai baju renda dipadukan
jilbab dengan warna senada.
Pak
Andi menyambut mereka dengan penuh antusias, meski tak ada lagi galigo yang
biasanya menjadi pembuka acara. Mereka naik satu persatu dan dipersilahkan
duduk. Setelah berbasa-basi selama beberapa menit, mereka pun memulai acara
madduta.
“Assalamu
alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Kata Daeng Manessa yang dijawab oleh
mereka yang hadir dalam rumah panggung itu.
“Pertama-tama kami
mengucapkan terima kasih atas penyambutan yang luar biasa ini. Izinkan saya
memperkenalkan diri, nama saya Daeng Manessa dan saya ditunjuk sebagai juru
bicara mewakili keluarga Pak Ambo Gau yang bermaksud untuk melamar ananda Esse
untuk keponakan kami ananda Saharuddin.” kata Daeng Manessa lugas.
“Terima
kasih kembali kami haturkan. Mengenai niat baik dari keluarga, kami telah
bermusyawarah dan memutuskan menerima lamaran dari keluarga Bapak Ambo Gau.”
Kata Pak Andi.
Esse,
Sang calon pengantin wanita berdiam diri di kamar berdoa dengan khusyu.
*****
“Bagaimana
ini Esse, apa yang harus aku lakukan, kenapa sebanyak itu yang mereka pinta?”
suara Saharuddin bergetar dari balik telepon.
“Maafkan
aku Kak.” Esse terisak.
“Kamu
tahu Ibu sedang marah sekarang. Bahkan memintaku untuk mencari wanita lain.
Kita kan sudah sepakat mengenai hal itu, tidak bisakah kau memberitahu
keluargamu?”
“Aku
sudah mencobanya Kak, bahkan bagiku, Kakak datang meski hanya dengan
seperangkat alat sholatpun akan kuterima. Ini tradisi keluarga yang tak dapat
kutolak.”
“Jadi
bagaimana sekarang?” Saharuddin gusar. “Ibu ingin bicara denganmu.”
“Iya
Kak.” Esse menahan nafas, wajahnya kian memerah.
“Nak
Esse, bukannya aku tak menyukaimu, tapi apa yang diminta keluargamu tak dapat
kami penuhi. Jika kamu memang mencintai anakku, mintalah keluargamu untuk
mengerti. Tiga puluh juta dan satu set perhiasan emas terlau berat buat
keluarga kami.” Tegas Bu Sitti.
“Saya
akan coba Bu. Mudah-mudahan keluarga besarku mau mengerti.” Kata Esse dengan
nada tertahan, suaranya kian bergetar. Dia linglung, ia mencintai Saharuddin
sepenuh hati namun keluarganya juga tak mau mundur dari keputusaannya. Dia tak
ingin kehilangan Saharuddin namun tak jua ingin memberikan aib bagi keluarga
besarnya. Pernikahan yang ia dambakan mungkinkah akan terwujud?
“Ingat
Esse, kita ini keluarga terhormat. Saharuddin seharusnya sudah tahu itu. Jika
dia memang mencintaimu maka dia akan mengikuti keputusan kami ini.” Kata Pak
Andi sang paman terngiang-ngiang di telinganya.
****
“Selamat
yah Esse, semoga berkah pernikahannya.” Teman-teman Esse satu persatu
menyalaminya.
“Terima
kasih.” Jawab Esse.
Esse
akhirnya kembali tersenyum setelah melewati badai cobaan. Keluarga besarnya pun
bangga berhasil mempertahankan siri’nya. Esse menikah dengan uang pannaik yang
begitu besar. Mereka tak tahu bahwa buku tabungan Esse telah kosong. Dia harus
menambahkan agar pesta hari itu tetap tejadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar